Wednesday, 16 June 2010

komunikasi terspeutik

KOMUNIKASI TERAPEUTIK
A.Tinjauan Umum tentang Komunikasi
1.Pengertian
Ada beberapa pengertian tentang komunikasi :
a.Komunikasi adalah pengiriman pesan atau tukar menukar informasi atau ide/gagasan (Oxford Dictionary)
b.Komunkasi adalah suatu proses ketika informasi disampaikan pada orang lain melalui symbol, tanda, atau tingkah laku
c.Komunkasi bisa berbentuk komunikasi verbal, komunikasi non verbal, dan komunikasi abstrak.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan atau informasi dari seseorang kepada orang lain baik secara verbal maupun nonverbal.
Penyampaian pesan dapat dilakukan dengan menggunakan symbol, tanda, atau tingkah laku.
2.Unsur-unsur Komunikasi
Unsur-unsur komunikasi adalah ; komunikator, pesan, komunikan, media, dan respon atau umpan balik.
a.Komunikator.
Komunikator atau orang yang menyampaikan pesan harus berusaha merumuskan isi pesan yang akan disampaikan. Sikap dari komunikator harus empati, jelas. Kejelasan kalimat dan kemudahan bahasa akan sangat mempengaruhi penerimaan pesan oleh komunikan.
b.Pesan
Pesan adalah pernyataan yang didukung oleh lambang. Lambang bahasa dinyatakan baik lisan maupun tulisan. Lambang suara berkaitan dengan intonasi suara. Lambang gerak adalah ekspresi wajah dan gerakan tubuh, sedangkan lambang warna berkaitan dengan pesan yang disampaikan melalui warna tertentu yang mempunyai makna, yang sudah diketahui secara umum, misalnya merah, kuning, dan hijau pada lampu lalu lintas.
c.Komunikan
Komunikan adalah penerima pesan. Seorang penerima pesan harus tanggap atau peka dengan pesan yang diterimanya dan harus dapat menafsirkan pesan yang diterimanya. Satu hal penting yang harus diperhatikan adalah persepsii komunikan terhadap pesan harus sama dengan persepsi komunikator yang menyampaikan pesan.
d.Media
Media adalah sarana atau saluran dari komunikasi. Bisa berupa media cetak, audio, visual dan audio-visual. Gangguan atau kerusakan pada media akan mempengaruhi penerimaan pesan dari komunikan.
e.Respon/umpan balik.
Respon atau umpan balik adalah reaksi komunikan sebagai dampak atau pengaruh dari pesan yang disampaikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Umpan balik langsung disampaikan komunikan secara verbal, yaitu dengan kalimat yang diucapkan langsung dan nonverbal melalui ekspresi wajah atau gerakan tubuh. Umpan balik secara tidak langsung dapat berupa perubahan perilaku setelah proses komunikasi berlangsung, bisa dalam waktu yang relative singkat atau bahkan memerlukan waktu cukup lama.
3.Faktor yang mempengaruhi komunikasi
a.Situasi/suasana
Situasi/suasana yang hiruk pikuk atau penuh kebisangan akan mempengaruhi baik/tidaknya pesan diterima oleh komunikan, suara bising yang diterima komunikan saat proses komunikasi berlangsung membuat pesan tidak jelas, kabur, bahkan sulit diterima. Oleh karena itu, sebelum proses komunikasi dilaksanakan, lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa supaya tenang dan nyaman.
Komunikasi yang berlangsung dan dilakukan pada waktu yang kurang tepat mungkin diterima dengan kurang tepat pula. Misalnya, apabila perawat memberikan penjelasan kepada orang tua tentang cara menjaga kesterilan luka pada saat orang tua sedang sedih, tentu saja pesan tersebut kurang diterima dengan baik oleh orang tua karena perhatian orang tua tidak berfokus pada pesan yang disampaikan perawat, melainkan pada perasaan sedihnya.
b.Kejelasan pesan
Kejelasan pesan akan sangat mempengaruhi keefektifan komunikasi. Pesan yang kurang jelas dapat ditafsirkan berbeda oleh komunikan sehingga antara komunikan dan komunikator dapat berbeda persepsi tentang pesan yang disampaikan. Hal ini akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan komunikasi yang dijalankan. Oleh karena itu, komunikator harus memahami pesan sebelum menyampaikannya pada komunikan, dapat dimengerti komunikan dan menggunakan artikulasi dan kalimat yang jelas.

4.Tehnik Komunikasi yang efektif
a.Yakinkan apa yang akan dikomunikasikan dan bagaimana mengkomunikasikannya. Hal yang berkaitan dengan kejelasan pesan yang ingin disampaikan.
b.Gunakan bahasa yang jelas dan dapat dimengerti komunikan. Seringkali perawat menemui pesan yang tidak dapat berbahasa Indonesia, sedangkan perawat itu sendiri tidak dapat berbahasa seperti pasien. Dalam kondisi seperti ini, orang ketiga diperlukan untuk menjembatani proses komunikasi tersebut.
c.Gunakan media komunikasi yang tepat dan adekuat. Media tertentu tepat digunakan untuk komunikasi tertentu. Perawat yang sedang memberi penyuluhan pada satu orang pasien tidak perlu menggunakan flip chart, tetapi cukup dengan brosur atau leaflet. Sebaliknya dalam satu kegiatan penyuluhan pada 25 orang tidak cukup hanya dengan brosur saja, tetapi diperlukan media yang tepat seperti flip chart atau film.
d.Ciptakan iklim komunikasi yang baik dan tepat. Untuk berlangsungnya proses komunikasi yang efektif diperlukan suasana tenang dan tidak bising. Akan lebih baik lagi apabila disertai dengan udara yang nyaman dan tidak terlalu panas.
e.Dengarkan dengan penuh perhatian terhadap apa yang sedang diutarakan komunikan karena apa yang diutarakan komunikan adalah umpan balik terhadap pesan yang diberikan komunikator.
f.Hindarkan komunikasi yang tidak disengaja. Setiap proses komunikasi yang dijalankan hendaknya mempunyai tujuan yang jelas dan dilakukan dengan berencana.
g.Ingat bahwa komunikasi adalah proses dua arah, yaitu harus terjadi umpan balik antara komunikator dan komunikan.
h.Yakinkan bahwa tindakan yang dilakukan tidak kontradiksi dengan apa yang diucapkan. Dengan kata lain ekspresi verbal harus sesuai dengan ekspresi non verbal. Hindari mengatakan saya turut berbahagia tetapi dengan ekspresi wajah yang datar dan tidak menunjukkan rasa bahagia.

B.Tinjauan Umum tentang Komunikasi Terapeutik.
A.Pengertian
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien.
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.
Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Hamid, 1996), tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien meliputi :
a.Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri.
b.Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.
c.Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dengan kapasitas untuk mencintai dan dicintai.
d.Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistik.
Tujuan komunikasi terapeutik adalah :
a.Membantu klien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila klien pecaya pada hal yang diperlukan.
b.Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
c.Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.

Tujuan terapeutik akan tercapai bila perawat memiliki karakteristik sebagai berikut (Hamid, 1998) :
a.Kesadaran diri.
b.Klarifikasi nilai.
c.Eksplorasi perasaan.
d.Kemampuan untuk menjadi model peran.
e.Motivasi altruistik.
f.Rasa tanggung jawab dan etik.
B.Komponen Komunikasi Terapeutik
Model struktural dari komunikasi mengidentifikasi lima komponen fungsional berikut (Hamid, 1998) :
a.Pengirim : yang menjadi asal dari pesan.
b.Pesan : suatu unit informasi yang dipindahkan dari pengirim kepada penerima.
c.Penerima : yang mempersepsikan pesan, yang perilakunya dipengaruhi oleh pesan.
d.Umpan balik : respon dari penerima pesan kepada pengirim pesan.
e.Konteks : tatanan di mana komunikasi terjadi.

Jika perawat mengevaluasi proses komunikasi dengan menggunakan lima elemen struktur ini maka masalah-masalah yang spesifik atau kesalahan yang potensial dapat diidentifikasi.
Menurur Roger, terdapat beberapa karakteristik dari seorang perawat yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan yang terapeutik.Karakteristik tersebut antara lain : (Suryani,2005).
a.Kejujuran (trustworthy). Kejujuran merupakan modal utama agar dapat melakukan komunikasi yang bernilai terapeutik, tanpa kejujuran mustahil dapat membina hubungan saling percaya. Klien hanya akan terbuka dan jujur pula dalam memberikan informasi yang benar hanya bila yakin bahwa perawat dapat dipercaya.
b.Tidak membingungkan dan cukup ekspresif. Dalam berkomunikasi hendaknya perawat menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh klien. Komunikasi nonverbal harus mendukung komunikasi verbal yang disampaikan. Ketidaksesuaian dapat menyebabkan klien menjadi bingung.
c.Bersikap positif. Bersikap positif dapat ditunjukkan dengan sikap yang hangat, penuh perhatian dan penghargaan terhadap klien. Roger menyatakan inti dari hubungan terapeutik adalah kehangatan, ketulusan, pemahaman yang empati dan sikap positif.
d.Empati bukan simpati. Sikap empati sangat diperlukan dalam asuhan keperawatan, karena dengan sikap ini perawat akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan klien seperti yang dirasakan dan dipikirkan oleh klien. Dengan empati seorang perawat dapat memberikan alternatif pemecahan masalah bagi klien, karena meskipun dia turut merasakan permasalahan yang dirasakan kliennya, tetapi tidak larut dalam masalah tersebut sehingga perawat dapat memikirkan masalah yang dihadapi klien secara objektif. Sikap simpati membuat perawat tidak mampu melihat permasalahan secara objektif karena dia terlibat secara emosional dan terlarut didalamnya.
e.Mampu melihat permasalahan klien dari kacamata klien.Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat harus berorientasi pada klien, (Taylor, dkk ,1997) dalam Suryani 2005. Untuk itu agar dapat membantu memecahkan masalah klien perawat harus memandang permasalahan tersebut dari sudut pandang klien. Untuk itu perawat harus menggunakan terkhnik active listening dan kesabaran dalam mendengarkan ungkapan klien. Jika perawat menyimpulkan secara tergesa-gesa dengan tidak menyimak secara keseluruhan ungkapan klien akibatnya dapat fatal, karena dapat saja diagnosa yang dirumuskan perawat tidak sesuai dengan masalah klien dan akibatnya tindakan yang diberikan dapat tidak membantu bahkan merusak klien.
f.Menerima klien apa adanya.Jika seseorang diterima dengan tulus, seseorang akan merasa nyaman dan aman dalam menjalin hubungan intim terapeutik. Memberikan penilaian atau mengkritik klien berdasarkan nilai-nilai yang diyakini perawat menunjukkan bahwa perawat tidak menerima klien apa adanya.

g.Sensitif terhadap perasaan klien. Tanpa kemampuan ini hubungan yang terapeutik sulit terjalin dengan baik, karena jika tidak sensitif perawat dapat saja melakukan pelanggaran batas, privasi dan menyinggung perasaan klien.
h.Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri. Seseorang yang selalu menyesali tentang apa yang telah terjadi pada masa lalunya tidak akan mampu berbuat yang terbaik hari ini. Sangat sulit bagi perawat untuk membantu klien, jika ia sendiri memiliki segudang masalah dan ketidakpuasan dalam hidupnya.
C.Fase Hubungan Komunikasi Terapeutik.
Struktur dalam komunikasi terapeutik, menurut Stuart,G.W.,1998, terdiri dari empat fase yaitu: (1) fase preinteraksi; (2) fase perkenalan atau orientasi; (3) fase kerja; dan (4) fase terminasi (Suryani,2005). Dalam setiap fase terdapat tugas atau kegiatan perawat yang harus terselesaikan.
a.Fase preinteraksi
Tahap ini adalah masa persiapan sebelum memulai berhubungan dengan klien. Tugas perawat pada fase ini yaitu :
1)Mengeksplorasi perasaan,harapan dan kecemasannya;
2)Menganalisa kekuatan dan kelemahan diri, dengan analisa diri ia akan terlatih untuk memaksimalkan dirinya agar bernilai tera[eutik bagi klien, jika merasa tidak siap maka perlu belajar kembali, diskusi teman kelompok;
3)Mengumpulkan data tentang klien, sebagai dasar dalam membuat rencana interaksi;
4)Membuat rencana pertemuan secara tertulis, yang akan di implementasikan saat bertemu dengan klien.
b.Fase orientasi
Fase ini dimulai pada saat bertemu pertama kali dengan klien. Pada saat pertama kali bertemu dengan klien fase ini digunakan perawat untuk berkenalan dengan klien dan merupakan langkah awal dalam membina hubungan saling percaya. Tugas utama perawat pada tahap ini adalah memberikan situasi lingkungan yang peka dan menunjukkan penerimaan, serta membantu klien dalam mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Tugas-tugas perawat pada tahap ini antara lain :

1)Membina hubungan saling percaya, menunjukkan sikap penerimaan dan komunikasi terbuka. Untuk membina hubungan saling percaya perawat harus bersikap terbuka, jujur, ihklas, menerima klien apa danya, menepati janji, dan menghargai klien;
2)Merumuskan kontrak bersama klien. Kontrak penting untuk menjaga kelangsungan sebuah interaksi.Kontrak yang harus disetujui bersama dengan klien yaitu, tempat, waktu dan topik pertemuan;
3)Menggali perasaan dan pikiran serta mengidentifikasi masalah klien. Untuk mendorong klien mengekspresikan perasaannya, maka tekhnik yang digunakan adalah pertanyaan terbuka;
4)Merumuskan tujuan dengan klien. Tujuan dirumuskan setelah masalah klien teridentifikasi. Bila tahap ini gagal dicapai akan menimbulkan kegagalan pada keseluruhan interaksi (Stuart,G.W,1998 dikutip dari Suryani,2005)

Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini antara lain :
1)Memberikan salam terapeutik disertai mengulurkan tangan jabatan tangan
2)Memperkenalkan diri perawat
3)Menyepakati kontrak. Kesepakatan berkaitan dengan kesediaan klien untuk berkomunikasi, topik, tempat, dan lamanya pertemuan.
4)Melengkapi kontrak. Pada pertemuan pertama perawat perlu melengkapi penjelasan tentang identitas serta tujuan interaksi agar klien percaya kepada perawat.
5)Evaluasi dan validasi. Berisikan pengkajian keluhan utama, alasan atau kejadian yang membuat klien meminta bantuan. Evaluasi ini juga digunakan untuk mendapatkan fokus pengkajian lebih lanjut, kemudian dilanjutkan dengan hal-hal yang terkait dengan keluhan utama. Pada pertemuan lanjutan evaluasi/validasi digunakan untuk mengetahui kondisi dan kemajuan klien hasil interaksi sebelumnya.
6)Menyepakati masalah. Dengan tekhnik memfokuskan perawat bersama klien mengidentifikasi masalah dan kebutuhan klien.
Selanjutnya setiap awal pertemuan lanjutan dengan klien lakukan orientasi. Tujuan orientasi adalah memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini dan mengevaluasi tindakan pertemuan sebelumnya.
c.Fase kerja.
Tahap ini merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi teraeutik.Tahap ini perawat bersama klien mengatasi masalah yang dihadapi klien.Perawat dan klien mengeksplorasi stressor dan mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, perasaan dan perilaku klien.Tahap ini berkaitan dengan pelaksanaan rencana asuhan yang telah ditetapkan.Tekhnik komunikasi terapeutik yang sering digunakan perawat antara lain mengeksplorasi, mendengarkan dengan aktif, refleksi, berbagai persepsi, memfokuskan dan menyimpulkan (Geldard,D,1996, dikutip dari Suryani, 2005).
d.Fase terminasi
Fase ini merupakan fase yang sulit dan penting, karena hubungan saling percaya sudah terbina dan berada pada tingkat optimal. Perawat dan klien keduanya merasa kehilangan. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau saat klien akan pulang. Perawat dan klien bersama-sama meninjau kembali proses keperawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan. Untuk melalui fase ini dengan sukses dan bernilai terapeutik, perawat menggunakan konsep kehilangan. Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat, yang dibagi dua yaitu:
1)Terminasi sementara, berarti masih ada pertemuan lanjutan;
2)Terminasi akhir, terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara menyeluruh. Tugas perawat pada fase ini yaitu :
a)Mengevaluasi pencapaian tujuan interaksi yang telah dilakukan, evaluasi ini disebut evaluasi objektif. Brammer & Mc Donald (1996) menyatakan bahwa meminta klien menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan atau respon objektif setelah tindakan dilakukan sangat berguna pada tahap terminasi (Suryani,2005);
b)Melakukan evaluasi subjektif, dilakukan dengan menanyakan perasaan klien setalah berinteraksi atau setelah melakukan tindakan tertentu;
c)Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Hal ini sering disebut pekerjaan rumah (planning klien). Tindak lanjut yang diberikan harus relevan dengan interaksi yang baru dilakukan atau yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya. Dengan tindak lanjut klien tidak akan pernah kosong menerima proses keperawatan dalam 24 jam;
d)Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya, kontrak yang perlu disepakati adalah topik, waktu dan tempat pertemuan. Perbedaan antara terminasi sementara dan terminasi akhir, adalah bahwa pada terminasi akhir yaitu mencakup keseluruhan hasil yang telah dicapai selama interaksi.

C.Sikap Komunikasi Terapeutik.
Lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi yang terapeutik menurut Egan, yaitu :
1.Berhadapan. Artinya dari posisi ini adalah “Saya siap untuk anda”.
2.Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
3.Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.
4.Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
5.Tetap rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon kepada klien.
Selain hal-hal di atas sikap terapeutik juga dapat teridentifikasi melalui perilaku non verbal. Stuart dan Sundeen (1998) mengatakan ada lima kategori komunikasi non verbal, yaitu :
1.Isyarat vokal, yaitu isyarat paralingustik termasuk semua kualitas bicara non verbal misalnya tekanan suara, kualitas suara, tertawa, irama dan kecepatan bicara.
2. Isyarat tindakan, yaitu semua gerakan tubuh termasuk ekspresi wajah dan sikap tubuh.
3.Isyarat obyek, yaitu obyek yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja oleh seseorang seperti pakaian dan benda pribadi lainnya.
4.Ruang memberikan isyarat tentang kedekatan hubungan antara dua orang. Hal ini didasarkan pada norma-norma social budaya yang dimiliki.
5.Sentuhan, yaitu fisik antara dua orang dan merupakan komunikasi non verbal yang paling personal. Respon seseorang terhadap tindakan ini sangat dipengaruhi oleh tatanan dan latar belakang budaya, jenis hubungan, jenis kelamin, usia dan harapan.
D.Teknik Komunikasi Terapeutik.
Ada dua persyaratan dasar untuk komunikasi yang efektif (Stuart dan Sundeen, 1998) yaitu :
1.Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan.
2.Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan lebih dahulu sebelum memberikan saran, informasi maupun masukan.
Stuart dan Sundeen, (1998) mengidentifikasi teknik komunikasi terapeutik sebagai berikut :
1.Mendengarkan dengan penuh perhatian.
Dalam hal ini perawat berusaha mengerti klien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan klien. Mendengar merupakan dasar utama dalam komunikasi. Dengan mendengar perawat mengetahui perasaan klien. Beri kesempatan lebih banyak pada klien untuk berbicara. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif.
2.Menunjukkan penerimaan.
Menerima tidak berarti menyetujui, menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan.
3.Menanyakan pertanyaan yang berkaitan.
Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai apa yang disampaikan oleh klien.
4.Mengulangi ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri.
Melalui pengulangan kembali kata-kata klien, perawat memberikan umpan balik bahwa perawat mengerti pesan klien dan berharap komunikasi dilanjutkan.
5.Mengklasifikasi.
Klasifikasi terjadi saat perawat berusaha untuk menjelaskan dalam kata-kata ide atau pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh klien.
6.Memfokuskan.
Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti.
7.Menyatakan hasil observasi.
Dalam hal ini perawat menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh isyarat non verbal klien.
8.Menawarkan informasi.
Memberikan tambahan informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien yang bertujuan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan.
9.Diam.
Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisir. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri, mengorganisir pikiran dan memproses informasi.
10.Meringkas.
Meringkas pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat.
11.Memberi penghargaan.
Penghargaan janganlah sampai menjadi beban untuk klien dalam arti jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi untuk mendapatkan pujian dan persetujuan atas perbuatannya.
12.Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan.
Memberi kesempatan kepada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan.
13.Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan.
Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan.
14.Menempatkan kejadian secara berurutan.
Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif.
15.Memberikan kesempatan kepada klien untuk menguraikan persepsinya
Apabila perawat ingin mengerti klien, maka perawat harus melihat segala sesuatunya dari perspektif klien.
16.Refleksi.
Refleksi memberikan kesempatan kepada klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri.

E.Hambatan Komunikasi Terapeutik.
Hambatan komunikasi terapeutik dalam hal kemajuan hubungan perawat-klien terdiri dari tiga jenis utama : resistens, transferens, dan kontertransferens (Hamid, 1998). Ini timbul dari berbagai alasan dan mungkin terjadi dalam bentuk yang berbeda, tetapi semuanya menghambat komunikasi terapeutik. Perawat harus segera mengatasinya. Oleh karena itu hambatan ini menimbulkan perasaan tegang baik bagi perawat maupun bagi klien. Untuk lebih jelasnya marilah kita bahas satu-persatu mengenai hambatan komunikasi terapeutik itu.
1.Resisten.
Resisten adalah upaya klien untuk tetap tidak menyadari aspek penyebab ansietas yang dialaminya. Resisten merupakan keengganan alamiah atau penghindaran verbalisasi yang dipelajari atau mengalami peristiwa yang menimbulkan masalah aspek diri seseorang. Resisten sering merupakan akibat dari ketidaksediaan klien untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan. Perilaku resistens biasanya diperlihatkan oleh klien selama fase kerja, karena fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaian masalah.
2.Transferens.
Transferens adalah respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dalam kehidupannya di masa lalu. Sifat yang paling menonjol adalah ketidaktepatan respon klien dalam intensitas dan penggunaan mekanisme pertahanan pengisaran (displacement) yang maladaptif. Ada dua jenis utama reaksi bermusuhan dan tergantung.
3.Kontertransferens.
Yaitu kebuntuan terapeutik yang dibuat oleh perawat bukan oleh klien. Konterrtransferens merujuk pada respon emosional spesifik oleh perawat terhadap klien yang tidak tepat dalam isi maupun konteks hubungan terapeutik atau ketidaktepatan dalam intensitas emosi. Reaksi ini biasanya berbentuk salah satu dari tiga jenis reaksi sangat mencintai, reaksi sangat bermusuhan atau membenci dan reaksi sangat cemas sering kali digunakan sebagai respon terhadap resisten klien.
Untuk mengatasi hambatan komunikasi terapeutik, perawat harus siap untuk mengungkapkan perasaan emosional yang sangat kuat dalam konteks hubungan perawat-klien (Hamid, 1998). Awalnya, perawat harus mempunyai pengetahuan tentang hambatan komunikasi terapeutik dan mengenali perilaku yang menunjukkan adanya hambatan tersebut. Latar belakang perilaku digali baik klien atau perawat bertanggung jawab terhadap hambatan terapeutik dan dampak negative pada proses terapeutik.
SUMBER:
Cangara, Hafid. (2006), Pengantar Ilmu Komunikasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Ellis,R.,Gates, R, & Kenworthy,N. (2000). Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan: Teori dan Praktik.Alih Bahasa :Susi Purwoko. Jakarta,EGC.
Keliat, B.A. (2002), Hubungan Terapeutik Perawat-Klien, EGC, Jakarta.
Notoatmodjo, S 1997, Ilmu Perilaku dan komunikasi Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta
Purwanto, H. (1998). Komunikasi untuk Perawat. EGC, Jakarta.
Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta.
Stuart.G.W. & Sundeen.S.J.(1998) . Buku Saku Keperawatan Jiwa.Alih Bahasa: Achir Yani S. Hamid. ed ke-3. Jakarta, EGC
Suryani. (2005). Komunikasi Terapeutik Teori & Praktek. Jakarta, EGC.

komunikasi terspeutik

KOMUNIKASI TERAPEUTIK
A.Tinjauan Umum tentang Komunikasi
1.Pengertian
Ada beberapa pengertian tentang komunikasi :
a.Komunikasi adalah pengiriman pesan atau tukar menukar informasi atau ide/gagasan (Oxford Dictionary)
b.Komunkasi adalah suatu proses ketika informasi disampaikan pada orang lain melalui symbol, tanda, atau tingkah laku
c.Komunkasi bisa berbentuk komunikasi verbal, komunikasi non verbal, dan komunikasi abstrak.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan atau informasi dari seseorang kepada orang lain baik secara verbal maupun nonverbal.
Penyampaian pesan dapat dilakukan dengan menggunakan symbol, tanda, atau tingkah laku.
2.Unsur-unsur Komunikasi
Unsur-unsur komunikasi adalah ; komunikator, pesan, komunikan, media, dan respon atau umpan balik.
a.Komunikator.
Komunikator atau orang yang menyampaikan pesan harus berusaha merumuskan isi pesan yang akan disampaikan. Sikap dari komunikator harus empati, jelas. Kejelasan kalimat dan kemudahan bahasa akan sangat mempengaruhi penerimaan pesan oleh komunikan.
b.Pesan
Pesan adalah pernyataan yang didukung oleh lambang. Lambang bahasa dinyatakan baik lisan maupun tulisan. Lambang suara berkaitan dengan intonasi suara. Lambang gerak adalah ekspresi wajah dan gerakan tubuh, sedangkan lambang warna berkaitan dengan pesan yang disampaikan melalui warna tertentu yang mempunyai makna, yang sudah diketahui secara umum, misalnya merah, kuning, dan hijau pada lampu lalu lintas.
c.Komunikan
Komunikan adalah penerima pesan. Seorang penerima pesan harus tanggap atau peka dengan pesan yang diterimanya dan harus dapat menafsirkan pesan yang diterimanya. Satu hal penting yang harus diperhatikan adalah persepsii komunikan terhadap pesan harus sama dengan persepsi komunikator yang menyampaikan pesan.
d.Media
Media adalah sarana atau saluran dari komunikasi. Bisa berupa media cetak, audio, visual dan audio-visual. Gangguan atau kerusakan pada media akan mempengaruhi penerimaan pesan dari komunikan.
e.Respon/umpan balik.
Respon atau umpan balik adalah reaksi komunikan sebagai dampak atau pengaruh dari pesan yang disampaikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Umpan balik langsung disampaikan komunikan secara verbal, yaitu dengan kalimat yang diucapkan langsung dan nonverbal melalui ekspresi wajah atau gerakan tubuh. Umpan balik secara tidak langsung dapat berupa perubahan perilaku setelah proses komunikasi berlangsung, bisa dalam waktu yang relative singkat atau bahkan memerlukan waktu cukup lama.
3.Faktor yang mempengaruhi komunikasi
a.Situasi/suasana
Situasi/suasana yang hiruk pikuk atau penuh kebisangan akan mempengaruhi baik/tidaknya pesan diterima oleh komunikan, suara bising yang diterima komunikan saat proses komunikasi berlangsung membuat pesan tidak jelas, kabur, bahkan sulit diterima. Oleh karena itu, sebelum proses komunikasi dilaksanakan, lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa supaya tenang dan nyaman.
Komunikasi yang berlangsung dan dilakukan pada waktu yang kurang tepat mungkin diterima dengan kurang tepat pula. Misalnya, apabila perawat memberikan penjelasan kepada orang tua tentang cara menjaga kesterilan luka pada saat orang tua sedang sedih, tentu saja pesan tersebut kurang diterima dengan baik oleh orang tua karena perhatian orang tua tidak berfokus pada pesan yang disampaikan perawat, melainkan pada perasaan sedihnya.
b.Kejelasan pesan
Kejelasan pesan akan sangat mempengaruhi keefektifan komunikasi. Pesan yang kurang jelas dapat ditafsirkan berbeda oleh komunikan sehingga antara komunikan dan komunikator dapat berbeda persepsi tentang pesan yang disampaikan. Hal ini akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan komunikasi yang dijalankan. Oleh karena itu, komunikator harus memahami pesan sebelum menyampaikannya pada komunikan, dapat dimengerti komunikan dan menggunakan artikulasi dan kalimat yang jelas.

4.Tehnik Komunikasi yang efektif
a.Yakinkan apa yang akan dikomunikasikan dan bagaimana mengkomunikasikannya. Hal yang berkaitan dengan kejelasan pesan yang ingin disampaikan.
b.Gunakan bahasa yang jelas dan dapat dimengerti komunikan. Seringkali perawat menemui pesan yang tidak dapat berbahasa Indonesia, sedangkan perawat itu sendiri tidak dapat berbahasa seperti pasien. Dalam kondisi seperti ini, orang ketiga diperlukan untuk menjembatani proses komunikasi tersebut.
c.Gunakan media komunikasi yang tepat dan adekuat. Media tertentu tepat digunakan untuk komunikasi tertentu. Perawat yang sedang memberi penyuluhan pada satu orang pasien tidak perlu menggunakan flip chart, tetapi cukup dengan brosur atau leaflet. Sebaliknya dalam satu kegiatan penyuluhan pada 25 orang tidak cukup hanya dengan brosur saja, tetapi diperlukan media yang tepat seperti flip chart atau film.
d.Ciptakan iklim komunikasi yang baik dan tepat. Untuk berlangsungnya proses komunikasi yang efektif diperlukan suasana tenang dan tidak bising. Akan lebih baik lagi apabila disertai dengan udara yang nyaman dan tidak terlalu panas.
e.Dengarkan dengan penuh perhatian terhadap apa yang sedang diutarakan komunikan karena apa yang diutarakan komunikan adalah umpan balik terhadap pesan yang diberikan komunikator.
f.Hindarkan komunikasi yang tidak disengaja. Setiap proses komunikasi yang dijalankan hendaknya mempunyai tujuan yang jelas dan dilakukan dengan berencana.
g.Ingat bahwa komunikasi adalah proses dua arah, yaitu harus terjadi umpan balik antara komunikator dan komunikan.
h.Yakinkan bahwa tindakan yang dilakukan tidak kontradiksi dengan apa yang diucapkan. Dengan kata lain ekspresi verbal harus sesuai dengan ekspresi non verbal. Hindari mengatakan saya turut berbahagia tetapi dengan ekspresi wajah yang datar dan tidak menunjukkan rasa bahagia.

B.Tinjauan Umum tentang Komunikasi Terapeutik.
A.Pengertian
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien.
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.
Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Hamid, 1996), tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien meliputi :
a.Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri.
b.Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.
c.Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dengan kapasitas untuk mencintai dan dicintai.
d.Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistik.
Tujuan komunikasi terapeutik adalah :
a.Membantu klien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila klien pecaya pada hal yang diperlukan.
b.Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
c.Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.

Tujuan terapeutik akan tercapai bila perawat memiliki karakteristik sebagai berikut (Hamid, 1998) :
a.Kesadaran diri.
b.Klarifikasi nilai.
c.Eksplorasi perasaan.
d.Kemampuan untuk menjadi model peran.
e.Motivasi altruistik.
f.Rasa tanggung jawab dan etik.
B.Komponen Komunikasi Terapeutik
Model struktural dari komunikasi mengidentifikasi lima komponen fungsional berikut (Hamid, 1998) :
a.Pengirim : yang menjadi asal dari pesan.
b.Pesan : suatu unit informasi yang dipindahkan dari pengirim kepada penerima.
c.Penerima : yang mempersepsikan pesan, yang perilakunya dipengaruhi oleh pesan.
d.Umpan balik : respon dari penerima pesan kepada pengirim pesan.
e.Konteks : tatanan di mana komunikasi terjadi.

Jika perawat mengevaluasi proses komunikasi dengan menggunakan lima elemen struktur ini maka masalah-masalah yang spesifik atau kesalahan yang potensial dapat diidentifikasi.
Menurur Roger, terdapat beberapa karakteristik dari seorang perawat yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan yang terapeutik.Karakteristik tersebut antara lain : (Suryani,2005).
a.Kejujuran (trustworthy). Kejujuran merupakan modal utama agar dapat melakukan komunikasi yang bernilai terapeutik, tanpa kejujuran mustahil dapat membina hubungan saling percaya. Klien hanya akan terbuka dan jujur pula dalam memberikan informasi yang benar hanya bila yakin bahwa perawat dapat dipercaya.
b.Tidak membingungkan dan cukup ekspresif. Dalam berkomunikasi hendaknya perawat menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh klien. Komunikasi nonverbal harus mendukung komunikasi verbal yang disampaikan. Ketidaksesuaian dapat menyebabkan klien menjadi bingung.
c.Bersikap positif. Bersikap positif dapat ditunjukkan dengan sikap yang hangat, penuh perhatian dan penghargaan terhadap klien. Roger menyatakan inti dari hubungan terapeutik adalah kehangatan, ketulusan, pemahaman yang empati dan sikap positif.
d.Empati bukan simpati. Sikap empati sangat diperlukan dalam asuhan keperawatan, karena dengan sikap ini perawat akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan klien seperti yang dirasakan dan dipikirkan oleh klien. Dengan empati seorang perawat dapat memberikan alternatif pemecahan masalah bagi klien, karena meskipun dia turut merasakan permasalahan yang dirasakan kliennya, tetapi tidak larut dalam masalah tersebut sehingga perawat dapat memikirkan masalah yang dihadapi klien secara objektif. Sikap simpati membuat perawat tidak mampu melihat permasalahan secara objektif karena dia terlibat secara emosional dan terlarut didalamnya.
e.Mampu melihat permasalahan klien dari kacamata klien.Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat harus berorientasi pada klien, (Taylor, dkk ,1997) dalam Suryani 2005. Untuk itu agar dapat membantu memecahkan masalah klien perawat harus memandang permasalahan tersebut dari sudut pandang klien. Untuk itu perawat harus menggunakan terkhnik active listening dan kesabaran dalam mendengarkan ungkapan klien. Jika perawat menyimpulkan secara tergesa-gesa dengan tidak menyimak secara keseluruhan ungkapan klien akibatnya dapat fatal, karena dapat saja diagnosa yang dirumuskan perawat tidak sesuai dengan masalah klien dan akibatnya tindakan yang diberikan dapat tidak membantu bahkan merusak klien.
f.Menerima klien apa adanya.Jika seseorang diterima dengan tulus, seseorang akan merasa nyaman dan aman dalam menjalin hubungan intim terapeutik. Memberikan penilaian atau mengkritik klien berdasarkan nilai-nilai yang diyakini perawat menunjukkan bahwa perawat tidak menerima klien apa adanya.

g.Sensitif terhadap perasaan klien. Tanpa kemampuan ini hubungan yang terapeutik sulit terjalin dengan baik, karena jika tidak sensitif perawat dapat saja melakukan pelanggaran batas, privasi dan menyinggung perasaan klien.
h.Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri. Seseorang yang selalu menyesali tentang apa yang telah terjadi pada masa lalunya tidak akan mampu berbuat yang terbaik hari ini. Sangat sulit bagi perawat untuk membantu klien, jika ia sendiri memiliki segudang masalah dan ketidakpuasan dalam hidupnya.
C.Fase Hubungan Komunikasi Terapeutik.
Struktur dalam komunikasi terapeutik, menurut Stuart,G.W.,1998, terdiri dari empat fase yaitu: (1) fase preinteraksi; (2) fase perkenalan atau orientasi; (3) fase kerja; dan (4) fase terminasi (Suryani,2005). Dalam setiap fase terdapat tugas atau kegiatan perawat yang harus terselesaikan.
a.Fase preinteraksi
Tahap ini adalah masa persiapan sebelum memulai berhubungan dengan klien. Tugas perawat pada fase ini yaitu :
1)Mengeksplorasi perasaan,harapan dan kecemasannya;
2)Menganalisa kekuatan dan kelemahan diri, dengan analisa diri ia akan terlatih untuk memaksimalkan dirinya agar bernilai tera[eutik bagi klien, jika merasa tidak siap maka perlu belajar kembali, diskusi teman kelompok;
3)Mengumpulkan data tentang klien, sebagai dasar dalam membuat rencana interaksi;
4)Membuat rencana pertemuan secara tertulis, yang akan di implementasikan saat bertemu dengan klien.
b.Fase orientasi
Fase ini dimulai pada saat bertemu pertama kali dengan klien. Pada saat pertama kali bertemu dengan klien fase ini digunakan perawat untuk berkenalan dengan klien dan merupakan langkah awal dalam membina hubungan saling percaya. Tugas utama perawat pada tahap ini adalah memberikan situasi lingkungan yang peka dan menunjukkan penerimaan, serta membantu klien dalam mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Tugas-tugas perawat pada tahap ini antara lain :

1)Membina hubungan saling percaya, menunjukkan sikap penerimaan dan komunikasi terbuka. Untuk membina hubungan saling percaya perawat harus bersikap terbuka, jujur, ihklas, menerima klien apa danya, menepati janji, dan menghargai klien;
2)Merumuskan kontrak bersama klien. Kontrak penting untuk menjaga kelangsungan sebuah interaksi.Kontrak yang harus disetujui bersama dengan klien yaitu, tempat, waktu dan topik pertemuan;
3)Menggali perasaan dan pikiran serta mengidentifikasi masalah klien. Untuk mendorong klien mengekspresikan perasaannya, maka tekhnik yang digunakan adalah pertanyaan terbuka;
4)Merumuskan tujuan dengan klien. Tujuan dirumuskan setelah masalah klien teridentifikasi. Bila tahap ini gagal dicapai akan menimbulkan kegagalan pada keseluruhan interaksi (Stuart,G.W,1998 dikutip dari Suryani,2005)

Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini antara lain :
1)Memberikan salam terapeutik disertai mengulurkan tangan jabatan tangan
2)Memperkenalkan diri perawat
3)Menyepakati kontrak. Kesepakatan berkaitan dengan kesediaan klien untuk berkomunikasi, topik, tempat, dan lamanya pertemuan.
4)Melengkapi kontrak. Pada pertemuan pertama perawat perlu melengkapi penjelasan tentang identitas serta tujuan interaksi agar klien percaya kepada perawat.
5)Evaluasi dan validasi. Berisikan pengkajian keluhan utama, alasan atau kejadian yang membuat klien meminta bantuan. Evaluasi ini juga digunakan untuk mendapatkan fokus pengkajian lebih lanjut, kemudian dilanjutkan dengan hal-hal yang terkait dengan keluhan utama. Pada pertemuan lanjutan evaluasi/validasi digunakan untuk mengetahui kondisi dan kemajuan klien hasil interaksi sebelumnya.
6)Menyepakati masalah. Dengan tekhnik memfokuskan perawat bersama klien mengidentifikasi masalah dan kebutuhan klien.
Selanjutnya setiap awal pertemuan lanjutan dengan klien lakukan orientasi. Tujuan orientasi adalah memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini dan mengevaluasi tindakan pertemuan sebelumnya.
c.Fase kerja.
Tahap ini merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi teraeutik.Tahap ini perawat bersama klien mengatasi masalah yang dihadapi klien.Perawat dan klien mengeksplorasi stressor dan mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, perasaan dan perilaku klien.Tahap ini berkaitan dengan pelaksanaan rencana asuhan yang telah ditetapkan.Tekhnik komunikasi terapeutik yang sering digunakan perawat antara lain mengeksplorasi, mendengarkan dengan aktif, refleksi, berbagai persepsi, memfokuskan dan menyimpulkan (Geldard,D,1996, dikutip dari Suryani, 2005).
d.Fase terminasi
Fase ini merupakan fase yang sulit dan penting, karena hubungan saling percaya sudah terbina dan berada pada tingkat optimal. Perawat dan klien keduanya merasa kehilangan. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau saat klien akan pulang. Perawat dan klien bersama-sama meninjau kembali proses keperawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan. Untuk melalui fase ini dengan sukses dan bernilai terapeutik, perawat menggunakan konsep kehilangan. Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat, yang dibagi dua yaitu:
1)Terminasi sementara, berarti masih ada pertemuan lanjutan;
2)Terminasi akhir, terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara menyeluruh. Tugas perawat pada fase ini yaitu :
a)Mengevaluasi pencapaian tujuan interaksi yang telah dilakukan, evaluasi ini disebut evaluasi objektif. Brammer & Mc Donald (1996) menyatakan bahwa meminta klien menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan atau respon objektif setelah tindakan dilakukan sangat berguna pada tahap terminasi (Suryani,2005);
b)Melakukan evaluasi subjektif, dilakukan dengan menanyakan perasaan klien setalah berinteraksi atau setelah melakukan tindakan tertentu;
c)Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Hal ini sering disebut pekerjaan rumah (planning klien). Tindak lanjut yang diberikan harus relevan dengan interaksi yang baru dilakukan atau yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya. Dengan tindak lanjut klien tidak akan pernah kosong menerima proses keperawatan dalam 24 jam;
d)Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya, kontrak yang perlu disepakati adalah topik, waktu dan tempat pertemuan. Perbedaan antara terminasi sementara dan terminasi akhir, adalah bahwa pada terminasi akhir yaitu mencakup keseluruhan hasil yang telah dicapai selama interaksi.

C.Sikap Komunikasi Terapeutik.
Lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi yang terapeutik menurut Egan, yaitu :
1.Berhadapan. Artinya dari posisi ini adalah “Saya siap untuk anda”.
2.Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
3.Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.
4.Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
5.Tetap rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon kepada klien.
Selain hal-hal di atas sikap terapeutik juga dapat teridentifikasi melalui perilaku non verbal. Stuart dan Sundeen (1998) mengatakan ada lima kategori komunikasi non verbal, yaitu :
1.Isyarat vokal, yaitu isyarat paralingustik termasuk semua kualitas bicara non verbal misalnya tekanan suara, kualitas suara, tertawa, irama dan kecepatan bicara.
2. Isyarat tindakan, yaitu semua gerakan tubuh termasuk ekspresi wajah dan sikap tubuh.
3.Isyarat obyek, yaitu obyek yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja oleh seseorang seperti pakaian dan benda pribadi lainnya.
4.Ruang memberikan isyarat tentang kedekatan hubungan antara dua orang. Hal ini didasarkan pada norma-norma social budaya yang dimiliki.
5.Sentuhan, yaitu fisik antara dua orang dan merupakan komunikasi non verbal yang paling personal. Respon seseorang terhadap tindakan ini sangat dipengaruhi oleh tatanan dan latar belakang budaya, jenis hubungan, jenis kelamin, usia dan harapan.
D.Teknik Komunikasi Terapeutik.
Ada dua persyaratan dasar untuk komunikasi yang efektif (Stuart dan Sundeen, 1998) yaitu :
1.Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan.
2.Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan lebih dahulu sebelum memberikan saran, informasi maupun masukan.
Stuart dan Sundeen, (1998) mengidentifikasi teknik komunikasi terapeutik sebagai berikut :
1.Mendengarkan dengan penuh perhatian.
Dalam hal ini perawat berusaha mengerti klien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan klien. Mendengar merupakan dasar utama dalam komunikasi. Dengan mendengar perawat mengetahui perasaan klien. Beri kesempatan lebih banyak pada klien untuk berbicara. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif.
2.Menunjukkan penerimaan.
Menerima tidak berarti menyetujui, menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan.
3.Menanyakan pertanyaan yang berkaitan.
Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai apa yang disampaikan oleh klien.
4.Mengulangi ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri.
Melalui pengulangan kembali kata-kata klien, perawat memberikan umpan balik bahwa perawat mengerti pesan klien dan berharap komunikasi dilanjutkan.
5.Mengklasifikasi.
Klasifikasi terjadi saat perawat berusaha untuk menjelaskan dalam kata-kata ide atau pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh klien.
6.Memfokuskan.
Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti.
7.Menyatakan hasil observasi.
Dalam hal ini perawat menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh isyarat non verbal klien.
8.Menawarkan informasi.
Memberikan tambahan informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien yang bertujuan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan.
9.Diam.
Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisir. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri, mengorganisir pikiran dan memproses informasi.
10.Meringkas.
Meringkas pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat.
11.Memberi penghargaan.
Penghargaan janganlah sampai menjadi beban untuk klien dalam arti jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi untuk mendapatkan pujian dan persetujuan atas perbuatannya.
12.Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan.
Memberi kesempatan kepada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan.
13.Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan.
Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan.
14.Menempatkan kejadian secara berurutan.
Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif.
15.Memberikan kesempatan kepada klien untuk menguraikan persepsinya
Apabila perawat ingin mengerti klien, maka perawat harus melihat segala sesuatunya dari perspektif klien.
16.Refleksi.
Refleksi memberikan kesempatan kepada klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri.

E.Hambatan Komunikasi Terapeutik.
Hambatan komunikasi terapeutik dalam hal kemajuan hubungan perawat-klien terdiri dari tiga jenis utama : resistens, transferens, dan kontertransferens (Hamid, 1998). Ini timbul dari berbagai alasan dan mungkin terjadi dalam bentuk yang berbeda, tetapi semuanya menghambat komunikasi terapeutik. Perawat harus segera mengatasinya. Oleh karena itu hambatan ini menimbulkan perasaan tegang baik bagi perawat maupun bagi klien. Untuk lebih jelasnya marilah kita bahas satu-persatu mengenai hambatan komunikasi terapeutik itu.
1.Resisten.
Resisten adalah upaya klien untuk tetap tidak menyadari aspek penyebab ansietas yang dialaminya. Resisten merupakan keengganan alamiah atau penghindaran verbalisasi yang dipelajari atau mengalami peristiwa yang menimbulkan masalah aspek diri seseorang. Resisten sering merupakan akibat dari ketidaksediaan klien untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan. Perilaku resistens biasanya diperlihatkan oleh klien selama fase kerja, karena fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaian masalah.
2.Transferens.
Transferens adalah respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dalam kehidupannya di masa lalu. Sifat yang paling menonjol adalah ketidaktepatan respon klien dalam intensitas dan penggunaan mekanisme pertahanan pengisaran (displacement) yang maladaptif. Ada dua jenis utama reaksi bermusuhan dan tergantung.
3.Kontertransferens.
Yaitu kebuntuan terapeutik yang dibuat oleh perawat bukan oleh klien. Konterrtransferens merujuk pada respon emosional spesifik oleh perawat terhadap klien yang tidak tepat dalam isi maupun konteks hubungan terapeutik atau ketidaktepatan dalam intensitas emosi. Reaksi ini biasanya berbentuk salah satu dari tiga jenis reaksi sangat mencintai, reaksi sangat bermusuhan atau membenci dan reaksi sangat cemas sering kali digunakan sebagai respon terhadap resisten klien.
Untuk mengatasi hambatan komunikasi terapeutik, perawat harus siap untuk mengungkapkan perasaan emosional yang sangat kuat dalam konteks hubungan perawat-klien (Hamid, 1998). Awalnya, perawat harus mempunyai pengetahuan tentang hambatan komunikasi terapeutik dan mengenali perilaku yang menunjukkan adanya hambatan tersebut. Latar belakang perilaku digali baik klien atau perawat bertanggung jawab terhadap hambatan terapeutik dan dampak negative pada proses terapeutik.
SUMBER:
Cangara, Hafid. (2006), Pengantar Ilmu Komunikasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Ellis,R.,Gates, R, & Kenworthy,N. (2000). Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan: Teori dan Praktik.Alih Bahasa :Susi Purwoko. Jakarta,EGC.
Keliat, B.A. (2002), Hubungan Terapeutik Perawat-Klien, EGC, Jakarta.
Notoatmodjo, S 1997, Ilmu Perilaku dan komunikasi Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta
Purwanto, H. (1998). Komunikasi untuk Perawat. EGC, Jakarta.
Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta.
Stuart.G.W. & Sundeen.S.J.(1998) . Buku Saku Keperawatan Jiwa.Alih Bahasa: Achir Yani S. Hamid. ed ke-3. Jakarta, EGC
Suryani. (2005). Komunikasi Terapeutik Teori & Praktek. Jakarta, EGC.

gizi buruk

TINJAUAN TEORITIS


A. Konsep Dasar Gizi Buruk
1. Pengertian
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.
2. Dua Tipe Gizi Buruk (Kwasiorkor dan Marasmus)
a. Kwasiorkor
Memiliki ciri : edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab, pandangan mata sayu, rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok, terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel, terjadi pembesaran hati, otot mengecil (hipotrofi), terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis), sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut anemia dan diare.
b. Marasmus
Memiliki ciri-ciri: badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit, wajah seperti orang tua, mudah menangis/cengeng dan rewel, kulit menjadi keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar), perut cekung, dan iga gambang; (7) seringdisertai penyakit gambang, seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang), diare kronik atau konstipasi (susah buang air).
3. Cara Mengukur Status Gizi Anak
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengukur status gizi pada anak. Berikut adalah salah satu contoh pengukuran status gizi bayi dan balita berdasarkan tinggi badan menurut usia dan lingkar lengan atas.
Tabel Berat dan Tinggi Badan Menurut Umur
(usia 0-5 tahun, jenis kelamin tidak dibedakan)

Tabel Standar Baku Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

4. Penyebab
a. penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu :
1) Kurangnya asupan gizi dari makanan.
2) Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi.
b. Penyebab tidak langsung yaitu :
1) Kemiskinan keluarga
2) Tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua yang rendah
3) Sanitasi lingkungan yang buruk
4) Pelayanan kesehatan yang kurang memadai
5. Pencegahan Gizi Buruk
Beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak:
a. Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
b. Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
c. Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter.
d. Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.
6. Dampak Gizi Buruk Pada Anak
 Gagal Tumbuh
Gagal tumbuh adalah bayi atau anak dengan pertumbuhan fisik kurang secara bermakna dibanding anak sebayanya.
Tanda-tandanya: Kegagalan mencapai tinggi dan berat badan ideal, Hilangnya lemak dibawah kulit secara signifikan, Berkurangya massa otot, Infeksi berulang.
7. PENATALAKSANAAN
Makanan /minuman dengan biologic tinggi gizi kalori / protein. Pemberian secara bertahap dari bentuk dan jumlah mula – mula cair (seperti susu) lunak (bubur) biasa (nasi lembek).

a. Prinsif pemberian nutrisi
1. Porsi kecil,sering,rendah serat, rendah laktosa
2. Energy / kalori : 100 K kal / kg BB/ hari
3. Protein : 1 – 1,5 g / kg BB / hari
b. Cairan : 130 ml / kg BB / hari Ringan – sedang : 100 ml / kg BB / hari Bila tampak komlikasi : Cotrymoksasol 5 ml
c. Bila anak sakit berat : Ampicillin 50 mg / kg BB IM/ IV Setiap 6 Jam Selama 2 Hari
d. Untuk Melihat kemajuan / perkembangan anak
1. Timbang berat badan setiap pagi sebelum diberi makan
2. Catat kenaikan BB anak tiap minggu

B. Konsep Dasar Keluarga.
1. Pengertian
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga. (Duvall dan Logan, 1986)
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. (Bailon dan Maglaya, 1978)
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. (Departemen Kesehatan RI , 1988).
2. Struktur Keluarga
a. Patrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah
b. Matrilineal : keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu
c. Matrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah ibu
d. Patrilokal : sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami
e. Keluarga kawinan : hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
3. Ciri-Ciri Struktur Keluarga
a. Terorganisasi : saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga
b. Ada keterbatasan : setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam mejalankan fungsi dan tugasnya masing-masing
c. Ada perbedaan dan kekhususan : setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing.

4. Ciri-Ciri Keluarga Indonesia
a. Suami sebagai pengambil keputusan
b. Merupakan suatu kesatuan yang utuh
c. Berbentuk monogram
d. Bertanggung jawab
e. Pengambil keputusan
f. Meneruskan nilai-nilai budaya bangsa
g. Ikatan kekeluargaan sangat erat
h. Mempunyai semangat gotong-royong
5. Tipe Keluarga
a. Tradisional
1) The nuclear family (keluarga inti) Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
2) The dyad family Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama dalam satu rumah
3) Keluarga usila Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah memisahkan diri
4) The childless family Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat waktunya, yang disebabkan karena mengejar karir/pendidikan yang terjadi pada wanita
5) The extended family (keluarga luas/besar) Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah seperti nuclear family disertai : paman, tante, orang tua (kakak-nenek), keponakan, dll)

6) The single-parent family (keluarga duda/janda) Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan)
7) Commuter family Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir pekan (week-end)
8) Multigenerational family Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah
9) Kin-network family Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama. Misalnya : dapur, kamar mandi, televisi, telpon, dll)
10) Blended family Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali dan membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya
k. The single adult living alone / single-adult family Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati
b. Non-Tradisional
1) The unmarried teenage mother Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah
2) The stepparent family Keluarga dengan orangtua tiri
3) Commune family Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas kelompok / membesarkan anak bersama
4) The nonmarital heterosexual cohabiting family Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan
5) Gay and lesbian families Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana pasangan suami-istri (marital partners)
6) Cohabitating couple Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu
7) Group-marriage family Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama, yang merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu, termasuk sexual dan membesarkan anaknya
8) Group network family Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama, pelayanan dan bertanggung jawab membesarkan anaknya
9) Foster family Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya
10) Homeless family Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental
11) Gang Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.
6. Tahap Perkembangan Keluarga
Perkembamngan keluarga berdasarkan konsep Duvall dan Miller (Friedman, 1998) adalah sebagai berikut :
a. Tahap I : Pasangan baru (keluarga baru)
Keluarga baru dimulai saat individu membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain:
• Membina hubungan intim yang memuaskan.
• Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok sosial.
• Mendiskusukan rencana memiliki anak.
b. Tahap II : Keluarga “ Child Bearing “ (Keluarga anak pertama)
Keluarga yang menantikan kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain :
• Persiapan menjadi orang tua.
• Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan seksual, dan kegiatan.
• Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
c. Tahap III : Keluarga dengan anak pra sekolah
Tahap ini di mulai saat kelahiran anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain:
• Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempa tinggal, privasi dan rasa aman.
• Membantu anak untuk bersosialisasi.
• Beradaptasi dengan anak yang lain juga harus terpenuhi
• Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam maupun diluar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar)
• Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.
• Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
• Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak.
d. Tahap IV : Keluarga dengan anak sekolah
Tahap keluarga yang dimulai saat anak masuk sekolah pada usia 6 tahun dan berakhir pada usia 12 tahun. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain :
• Membantu anak sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkugan.
• Mempertahankan keintiman pasangan.
• Memenuhi kebutuhan dan biaya hidup yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk menimgkatkan kesehatan anggota keluarga.
e. Tahap V : Keluarga dengan anak remaj
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun berakhir sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat meninggalkan rumah oran tuanya. Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain :
• Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab mengingat remaja yang sudah bertambah dewasa dan meningkatkan otonomnya.
• Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua.
• Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.
• Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang.
f. Tahap VI : Keluarga dan anak dewasa (pelepasan)
Tahap ini di mulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap ini tergantung dalam jumlah anak dalam keluarga ata jika ada anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua. Tugas perkembangan pada tahap ini antara lain :
• Memperluaskan keluarga inti menjadi keluarga yang besar.
• Mempertahankan keintiman pasangan istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua.
• Membantu anak untuk manfiri di masyarakat.
• Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
g. Tahap VII : Keluarga usia pertengaha
Tahap ini dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah da berakhir pada saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal dunia. Tugas perkembangan keluarga pada ini antara lain :
• Mempertahankan kesehatan.
• Mempertahankan hubungan dengan teman sebaya dan anak – anak.
• Meningkatkan keakraban pasangan.
h. Tahap VIII : Keluarga usia lanjut
Pada tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai saat salah sat pasangan pensiun berlanjut saat salah satu pasangan meninggal sampa keduanya meninggal. Tugas perkembangan keluarga tahap ini antar lain:
• Mempertahankan rumah yang menyenangkan.
• Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan pendapatan.
• Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat.
• Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
• Melakukan life – preview, perenungan hidup/masa lalu
7. Perawatan Kesehatan Keluarga
Perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuan melalui perawatan sebagai saran/penyalur.
• Alasan Keluarga sebagai Unit Pelayanan :
a. Keluarga sebagai unit utama masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat
b. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan atau memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam kelompoknya
c. Masalah-masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan, dan apabila salah satu angota keluarga mempunyai masalah kesehatan akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya.
d. Dalam memelihara kesehatan anggota keluarga sebagai individu (pasien), keluarga tetap berperan sebagai pengambil keputusan dalam memelihara kesehatan para anggotanya
e. Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk berbagai upaya kesehatan masyarakat.
• Tujuan Perawatan Kesehatan Keluarga
a) Tujuan umum : Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memelihara kesehatan keluarga mereka, sehingga dapat meningkatkan status kesehatan keluarganya
b) Tujuan khusus :
1) Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi masalah kesehatan yang dihadapi oleh keluarga
2) Meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah-masalah kesehatan dasar dalam keluarga
3) Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah kesehatan para anggotanya
4) Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan ter hadap anggota keluarga yang sakit dan dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya
5) Meningkatkan produktivitas keluarga dalam meningkatkan mutu hidupnya
• Tugas-tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan
Untuk dapat mencapai tujuan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, keluarga mempunyai tugas dalam pemeliharaan kesehatan para anggotanya dan saling memelihara. Freeman (1981) :
1. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga
2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat
3. Memberikan keperawatan kepada anggota keluarganya yang sakit, dan yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usaianya yang terlalu muda
4. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga
5. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga-lembaga kesehatan, yang menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada.
• Peran Perawat Keluarga :
1. Pendidik Perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar :
a. Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan keluarga secara mandiri
b. Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga
c. Koordinator Diperlukan pada perawatan berkelanjutan agar pelayanan yang komprehensif dapat tercapai. Koordinasi juga sangat diperlukan untuk mengatur program kegiatan atau terapi dari berbagai disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan pengulangan
d. Pelaksana Perawat yang bekerja dengan klien dan keluarga baik di rumah, klinik maupun di rumah sakit bertanggung jawab dalam memberikan perawatan langsung. Kontak pertama perawat kepada keluarga melalui anggota keluarga yang sakit. Perawat dapat mendemonstrasikan kepada keluarga asuhan keperawatan yang diberikan dengan harapan keluarga nanti dapat melakukan asuhan langsung kepada anggota keluarga yang sakit
e. Pengawas kesehatan Sebagai pengawas kesehatan, perawat harus melakukan home visite atau kunjungan rumah yang teratur untuk mengidentifikasi atau melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga
f. Konsultan Perawat sebagai narasumber bagi keluarga di dalam mengatasi masalah kesehatan. Agar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat, maka hubungan perawat-keluarga harus dibina dengan baik, perawat harus bersikap terbuka dan dapat dipercaya
g. Kolaborasi Perawat komunitas juga harus bekerja dama dengan pelayanan rumah sakit atau anggota tim kesehatan yang lain untuk mencapai tahap kesehatan keluarga yang optimal
h. Fasilitator Membantu keluarga dalam menghadapi kendala untuk meningkatkan derajat kesehatannya. Agar dapat melaksanakan peran fasilitator dengan baik, maka perawat komunitas harus mengetahui sistem pelayanan kesehatan (sistem rujukan, dana sehat, dll)
i. Penemu kasus Mengidentifikasi masalah kesehatan secara dini, sehingga tidak terjadi ledakan atau wabah.
j. Modifikasi lingkungan Perawat komunitas juga harus dapat mamodifikasi lingkungan, baik lingkungan rumah maupun lingkungan masyarakat, agar dapat tercipta lingkungan yang sehat


• Prinsip-prinsip Perawatan Keluarga :
1. Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan
2. Dalam memberikan asuhan perawatan kesehatan keluarga, sehat sebagai tujuan utama
3. Asuhan keperawatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai peningkatan kesehatan keluarg
4. Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, perawat melibatkan peran serta keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya
5. Lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang bersifat promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitative
6. Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga memanfaatkan sumber daya keluarga semaksimal mungkin untuk kepentingan kesehatan keluarga
7. Sasaran asuhan perawatan kesehatan keluarga adalah keluarga secara keseluruhan
8. Pendekatan yang digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah dengan menggunakan proses keperawatan
9. Kegiatan utama dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga adalah penyuluhan kesehatan dan asuhan perawatan kesehatan dasar/perawatan di rumah
10. Diutamakan terhadap keluarga yang termasuk resiko tinggi.

hipertensi

Tinjauan Teoritis

A. Hipertensi
1. Pengertian.
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau lebih.
2. Penyebab
a. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi
b. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur (jika umur bertambah maka TD meningkat), jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
c. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ), kegemukan atau makan berlebihan, stress dan pengaruh lain misalnya merokok, minum alcohol, minum obat-obatan (ephedrine, prednison, epineprin )


3. tanda dan gejala
a. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
b. Sakit kepala
c. Pusing / migrain
d. Rasa berat ditengkuk
e. Sukar tidur
f. Mata berkunang kunang
g. Lemah dan lelah
h. Muka pucat
i. Suhu tubuh rendah
4. komplikasi
a. Stroke
b. Serangan jantung
c. Edema paru
d. Gagal ginjal
e. Kebutaan karena pecahnya pembuluh darah mata
5. PENCEGAHAN
a. Batasi makanan berlemak jenuh tinggi seperti Otak, Ginjal, Paru, Minyak Kelapa, Gajih Jeroan dan lain- lain.
b. Makanan olahan / berpengawet
c. Kuranggi minum teh/kopi
d. Kurangi mengkonsumsi garam
e. Hindari stress
f. Makan yang cukup berserat misal: pepaya, pisang, dll
g. Banyak istirahat
h. Olahraga
6. penatalaksanaan
1. Pola hidup sehat (Mencegah lebih baik dari pada mengobati)
a) Diet
Tujuan dari Diet ini adalah untuk membantu menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Selain itu harus diperhatikan pula penyakit degeneratif lain yang biasanya menyertai tekanan darah tinggi seperti Jantung, Ginjal dan Diabetes Mellitus.
Prinsip Diet pada penderitaa hipertensi adalah sbb :
1) Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang.
2) Penyesuaian Jenis dan Komposisi makanan.
3) Pembatasan konsumsi jumlah garam dan jenis makanannya.
Yang dimaksud dengan garam disini adalah Garam Natrium yang terdapat dalam hampir semua bahan makanan yang berasal dari Hewan dan Tumbuh-tumbuhan. Salah satu sumber utama garam natrium adalah Garam Dapur, oleh karena itu dianjurkan konsumsi garam dapur tidak lebih dari ¼ - ½ sendok teh/hari.
Selain itu mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita Hipertensi yakni untuk menghindari dan membatasi makanan yang dapat meningkatkan kadar Kolesterol darah serta meningkatkan Tekadan Darah, sehingga penderita tidak mengalami Stroke atau Infark Jantung.
Makanan yang harus Dihindari atau dibatasi adalah :
1. Makanan yang berkadar Lemak Jenuh Tinggi seperti Otak, Ginjal, Paru, Minyak Kelapa, Gajih.
2. Makanan yang diolah dengan dengan menggunakan Garam Natrium (Biscuit, Craker, Keripik dan Makanan Kering yang asin).
3. Makanan dan Minuman dalam kaleng (Sarden, Sosis, Korned, Sayuran serta Buah-Buahan dalam kaleng, Soft Drink).
4. Makanan yang Diawetkan (Dendeng, Asinan Sayur/Buah, Abon, Ikan Asin, Pindang, Udang Kering, Telur Asin, Selai Kacang).
5. Susu full cream, Mentega, Margarine, Keju Mayonnaise serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti Daging Merah (Sapi/Kambing), Kuning Telur, Kulit Ayam).
6. Bumbu-bumbu seperti Kecap, Maggi, Terasi, Saus Tomat, Saus Sambal, Tauco serta bumbu penyedap lainyang pada umumnya mengandung Garam Natrium.
7. Alkohol dan makanan yang mengandung Alkohol seperti Durian dan Tape.



b) Aktivitas.
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging, bersepeda atau berenang.
2. Penatalaksanaan Farmakologis / obat-obatan.
Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti golongan diuretic(HCT 1-2 X 25 mg/ hari atau furosemid 1-2 X 40 mg/ hari). golongan betabloker (Propanolol 2-3 X 10 mg / hari), golongan adrenergik neuron bloker (Reserpin 1-3 X 0,1 mg), golongan ACE-inhibitor (captopril 2-3×12,5-25 mg)
3. Obat alamiah Untuk Hipertensi
1) Seledri
Seledri sudah lama digunakan pakar pengobatan oriental sebagai anti-hipertensi. Setiap hari Anda sedikitnya harus makan 4 pucuk seledri untuk menjaga tekanan darah. Boleh juga dibuat jus agar mudah diminum.
2) Bawang Putih dan Bawang Bombai.
Bawang putih kerap dijuluki ‘obat ajaib’ untuk jantung, karena bermanfaat bagi seluruh sistem kardiovaskular. Hasil studi menunjukkan pasien hipertensi yang diberi sesiung bawang putih setiap hari selama 12 minggu dapat menurunkan tekanan diastolik dan kolesterol. Kurang suka dengan aroma bawang putih? Campurkan sana irisan bawang bombai ke dalam masakan.


3) Tomat
Tomat mengandung GABA (gamma-amino butyric acid), yang dapat menurunkan tekanan darah. Coba pula mengonsumsi brokoli yang bermanfaat serupa.
4) Rempah Segar
Tukar garam dengan cincangan rempah segar seperti oregano, jintan, lada hitam, thyme, dan daun salam. Masakan Anda pun tak akan terasa ‘anyep’ di lidah tetapi tetap sehat. Bila memungkinkan gunakan rempah yang segar. Rempah-rempah ini juga mengandung banyak antioksidan yang dapat melindungi sel tubuh dari kerusakan.
5) Yogurt
Ganti menu sarapan atau camilan Anda dengan yogurt. Dibandingkan susu rendah lemak, yogurt mengandung 50% lebih banyak kalsium dan potasium yang dapat menurunkan tekanan darah.
6) Ketimun
Ketimun dengan kandungan kaliumnya yang tinggi, memiliki khasiat meringankan penyakit hipertensi, terutama akibat hipersensitivitas terhadap natrium seperti garam dapur, petsin atau soda kue.
7) Alpukat.
Alpukat mampu menurunkan resiko stroke dan serangan jantung, karena alpukat merupakan satu-satunya buah yang kaya lemak, bahkan kadarnya lebih dari dua kali kandungan lemak dalam durian. Lemak alpukat membantu menurunkan kadar “kolesterol jahat”atau LDL dan menaikkan “kolesterol baik” atau HDL, sehingga secara nyata menekan resiko stroke dan serangan jantung. Alpukat kaya akan mineral kalium, tapi rendah kandungan natriumnya. Perbandingan ini mendorong suasana basa di dalam tubuh kita. Alpukat memiliki kadar asam folat dan vitamin E yang tinggi, sehingga lebih efektif dalam meredam hipertensi. Alpukat dapat membantu memperlancar aliran darah dan dianjurkan sebagai bagian dari menu untuk mengendalikan diabetes.

hipertensi

Tinjauan Teoritis

A. Hipertensi
1. Pengertian.
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau lebih.
2. Penyebab
a. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi
b. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur (jika umur bertambah maka TD meningkat), jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
c. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ), kegemukan atau makan berlebihan, stress dan pengaruh lain misalnya merokok, minum alcohol, minum obat-obatan (ephedrine, prednison, epineprin )


3. tanda dan gejala
a. Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
b. Sakit kepala
c. Pusing / migrain
d. Rasa berat ditengkuk
e. Sukar tidur
f. Mata berkunang kunang
g. Lemah dan lelah
h. Muka pucat
i. Suhu tubuh rendah
4. komplikasi
a. Stroke
b. Serangan jantung
c. Edema paru
d. Gagal ginjal
e. Kebutaan karena pecahnya pembuluh darah mata
5. PENCEGAHAN
a. Batasi makanan berlemak jenuh tinggi seperti Otak, Ginjal, Paru, Minyak Kelapa, Gajih Jeroan dan lain- lain.
b. Makanan olahan / berpengawet
c. Kuranggi minum teh/kopi
d. Kurangi mengkonsumsi garam
e. Hindari stress
f. Makan yang cukup berserat misal: pepaya, pisang, dll
g. Banyak istirahat
h. Olahraga
6. penatalaksanaan
1. Pola hidup sehat (Mencegah lebih baik dari pada mengobati)
a) Diet
Tujuan dari Diet ini adalah untuk membantu menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Selain itu harus diperhatikan pula penyakit degeneratif lain yang biasanya menyertai tekanan darah tinggi seperti Jantung, Ginjal dan Diabetes Mellitus.
Prinsip Diet pada penderitaa hipertensi adalah sbb :
1) Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang.
2) Penyesuaian Jenis dan Komposisi makanan.
3) Pembatasan konsumsi jumlah garam dan jenis makanannya.
Yang dimaksud dengan garam disini adalah Garam Natrium yang terdapat dalam hampir semua bahan makanan yang berasal dari Hewan dan Tumbuh-tumbuhan. Salah satu sumber utama garam natrium adalah Garam Dapur, oleh karena itu dianjurkan konsumsi garam dapur tidak lebih dari ¼ - ½ sendok teh/hari.
Selain itu mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita Hipertensi yakni untuk menghindari dan membatasi makanan yang dapat meningkatkan kadar Kolesterol darah serta meningkatkan Tekadan Darah, sehingga penderita tidak mengalami Stroke atau Infark Jantung.
Makanan yang harus Dihindari atau dibatasi adalah :
1. Makanan yang berkadar Lemak Jenuh Tinggi seperti Otak, Ginjal, Paru, Minyak Kelapa, Gajih.
2. Makanan yang diolah dengan dengan menggunakan Garam Natrium (Biscuit, Craker, Keripik dan Makanan Kering yang asin).
3. Makanan dan Minuman dalam kaleng (Sarden, Sosis, Korned, Sayuran serta Buah-Buahan dalam kaleng, Soft Drink).
4. Makanan yang Diawetkan (Dendeng, Asinan Sayur/Buah, Abon, Ikan Asin, Pindang, Udang Kering, Telur Asin, Selai Kacang).
5. Susu full cream, Mentega, Margarine, Keju Mayonnaise serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti Daging Merah (Sapi/Kambing), Kuning Telur, Kulit Ayam).
6. Bumbu-bumbu seperti Kecap, Maggi, Terasi, Saus Tomat, Saus Sambal, Tauco serta bumbu penyedap lainyang pada umumnya mengandung Garam Natrium.
7. Alkohol dan makanan yang mengandung Alkohol seperti Durian dan Tape.



b) Aktivitas.
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, jogging, bersepeda atau berenang.
2. Penatalaksanaan Farmakologis / obat-obatan.
Golongan obat - obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti golongan diuretic(HCT 1-2 X 25 mg/ hari atau furosemid 1-2 X 40 mg/ hari). golongan betabloker (Propanolol 2-3 X 10 mg / hari), golongan adrenergik neuron bloker (Reserpin 1-3 X 0,1 mg), golongan ACE-inhibitor (captopril 2-3×12,5-25 mg)
3. Obat alamiah Untuk Hipertensi
1) Seledri
Seledri sudah lama digunakan pakar pengobatan oriental sebagai anti-hipertensi. Setiap hari Anda sedikitnya harus makan 4 pucuk seledri untuk menjaga tekanan darah. Boleh juga dibuat jus agar mudah diminum.
2) Bawang Putih dan Bawang Bombai.
Bawang putih kerap dijuluki ‘obat ajaib’ untuk jantung, karena bermanfaat bagi seluruh sistem kardiovaskular. Hasil studi menunjukkan pasien hipertensi yang diberi sesiung bawang putih setiap hari selama 12 minggu dapat menurunkan tekanan diastolik dan kolesterol. Kurang suka dengan aroma bawang putih? Campurkan sana irisan bawang bombai ke dalam masakan.


3) Tomat
Tomat mengandung GABA (gamma-amino butyric acid), yang dapat menurunkan tekanan darah. Coba pula mengonsumsi brokoli yang bermanfaat serupa.
4) Rempah Segar
Tukar garam dengan cincangan rempah segar seperti oregano, jintan, lada hitam, thyme, dan daun salam. Masakan Anda pun tak akan terasa ‘anyep’ di lidah tetapi tetap sehat. Bila memungkinkan gunakan rempah yang segar. Rempah-rempah ini juga mengandung banyak antioksidan yang dapat melindungi sel tubuh dari kerusakan.
5) Yogurt
Ganti menu sarapan atau camilan Anda dengan yogurt. Dibandingkan susu rendah lemak, yogurt mengandung 50% lebih banyak kalsium dan potasium yang dapat menurunkan tekanan darah.
6) Ketimun
Ketimun dengan kandungan kaliumnya yang tinggi, memiliki khasiat meringankan penyakit hipertensi, terutama akibat hipersensitivitas terhadap natrium seperti garam dapur, petsin atau soda kue.
7) Alpukat.
Alpukat mampu menurunkan resiko stroke dan serangan jantung, karena alpukat merupakan satu-satunya buah yang kaya lemak, bahkan kadarnya lebih dari dua kali kandungan lemak dalam durian. Lemak alpukat membantu menurunkan kadar “kolesterol jahat”atau LDL dan menaikkan “kolesterol baik” atau HDL, sehingga secara nyata menekan resiko stroke dan serangan jantung. Alpukat kaya akan mineral kalium, tapi rendah kandungan natriumnya. Perbandingan ini mendorong suasana basa di dalam tubuh kita. Alpukat memiliki kadar asam folat dan vitamin E yang tinggi, sehingga lebih efektif dalam meredam hipertensi. Alpukat dapat membantu memperlancar aliran darah dan dianjurkan sebagai bagian dari menu untuk mengendalikan diabetes.

ggk


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah usaha yang diarahkan agar setiap penduduk dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Upaya tersebut sampai saat ini masih menjadi kendala yang disebabkan masih tingginya masalah kesehatan, terutama yang berkaitan dengan penyakit yang dapat menghambat kemampuan seseorang untuk hidup sehat. Penyakit – penyakit tersebut diantaranya adalah Gagal Ginjal Kronik, (Depkes RI, 2002).
WHO memperkirakan setiap 1 juta Jiwa terdapat 23 – 30 orang yang mengalami Gagal Ginjal kronik per tahun. Kasus Gagal Ginjal di Dunia meningkat per tahun lebih 50%. Di Negara yang sangat maju tingkat gizinya seperti Amerika Serikat, Setiap tahunnya sekitar 20 juta orang dewasa menderita penyakit Gagal Ginjal Kronik, ( Santoso, 2007).
Giatno (2007, dalam Depkes RI 2007), pada peringatan Hari Ginjal Sedunia mengatakan hingga saat ini di Tanah Air terdapat sekitar 70 ribu orang penderita Gagal Ginjal Kronik yang memerlukan penanganan terapi cuci darah. Sayangnya hanya 7.000 penderita Gagal Ginjal Kronik atau 10% yang dapat melakukan cuci darah yang dibiayai program Gakin, Askes dan jamsostek. Sisanya sekitar 63 ribu harus pasrah menunggu nasib.
Gagal ginjal kronik saat ini merupakan masalah kesehatan yang penting mengingat selain insiden dan prevalensinya yang semakin meningkat, juga pengobatan pengganti ginjal yang harus dijalani oleh penderita gagal ginjal merupakan pengobatan yang sangat mahal yang harus di tanggung oleh penderita dan keluarganya, (Bahri, 2005). Bila ginjal tidak berfungsi, maka sisa metabolisme yang tidak dikeluarkan tubuh akan menjadi racun bagi tubuh sendiri. Racun ini akan menimbulkan keluhan mual, muntah, sakit kepala hebat sampai penurunan kesadaran. Cairan yang tidak bisa keluar dari tubuh akan menyebabkan terjadinya penumpukan cairan di seluruh rongga tubuh sehingga terjadi sembab dan sesak napas. Penyebab itulah yang menimbulkan masalah bagi penderitanya. Karena ia membutuhkan ginjal buatan untuk menyaring bahan-bahan berbahaya sisa metabolisme ke luar tubuh. Bila tidak dengan segera diatasi si penderita yang mengalami gagal ginjal pada akhirnya akan menemui kematian, (Mambo, 2006).
Jumlah pasien penderita penyakit gagal ginjal kronik di Indonesia diperkirakan 60.000 orang dengan pertambahan 4.400 pasien baru setiap tahunnya. Sedangkan jumlah mesin cuci darah yang ada di Indonesia sekitar 1.000 unit. Jumlah ini hanya bisa melayani 4.000 orang setiap tahun. Ini berarti jumlah pasien yang dapat dilayani kurang dari 10 persen, (Wijaya, 2009).
Penderita GGK di Provinsi Bengkulu setiap tahunnya mengalami peningkatan ini dapat dilihat berdasarkan data yang di dapat dari rekam medik RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu yang dapat dilihat pada tabel 1.1.

Tabel 1.1 prevelensi pasien GGK di RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu

NO
TAHUN
UMUR JENIS KELAMIN
JUMLAH
5-14 15-24 25-44 45-64 >65 Lk Pr
1 2007 1 25 69 44 20 97 62 159
2 2008 1 31 71 43 30 81 95 176
3 2009
Jan-okt 4 3 30 62 28 84 43 127
Total 462
Sumber : Medical record RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat jumlah penderita GGK cukup tinggi dan jika di lihat dari segi umur maupun jumlah setiap tahunnya mengalami peningkatan setiap tahunnya. Penyebab terjadinya gagal ginjal adalah disebabkan oleh beberapa penyakit serius yang diderita oleh tubuh yang mana berlahan – lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal, dan apabila penyakit GGK tidak segera mendapatkan prawatan yang intensif dapat menyebabkan kematian, (Gaspersz dan foenay, 2003)
Hampir semua kasus Gagal Ginjal Kronik di bawa ke ruang Haemodialisa (cuci darah) untuk mendapatkan tindakan pengobatan. Bagi penderita GGK diadakan haemodilisa akan mencegah kematian. Namun demikian haemodialisa tidak menyembuhkan atau memulihkan penyakit penyakit ginjal dan tidak mampumengimbangi hilangnya aktifitas metabolik atau endokrin yang dilaksanakan ginjal namun hanya sebatas upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan mengendalikan gejala uremia, (Brunner and Suddart, 2001).
Hemodialisa merupakan suatu tindakan terapi dengan dialisa sebagai pengganti fungsi ginjal untuk menurunkan kadar racun di dalam darah. Pada proses ini zat-zat racun (toksik), air dan elektrolit yang tidak bisa dikeluarkan lagi oleh ginjal yang sakit, di bersihkan dari darah melalui proses haemodialisis. Sejak tahun 1960 haemodialisa mulai ditetapkan sebagai terapi pengganti ginjal pada pasien yang mengalami kegagalan fungsi ginjal, baik yang bersifat akut maupun kronik, (Setiawan, 2008).
Hemodialisa harus dilakukan secara teratur tanpa boleh dilewatkan satu haripun. Biasanya hemodialisa dilakukan 2 – 3 kali dalam satu minggu yang membutuhkann waktu 3 – 6 jam setiap kali melakukan hemodialisa. Hemodialisa tidak bisa dihentikan kecuali jika menjalani pencangkokan ginjal, kegiatan hemodialisa akan berlangsung terus menerus selama hidupnya (Lubis, 2006). Apabila hemodialisa tidak dilakukan atau dilewatkan hanya 1 kali maka pasien akan mengalami penurunan kesehatan dan akan jatuh kembali ke GGK yang hebat sehingga dapat mengakibatkan kematian, (Rubin, 2005).
Menurut Notoatmodjo (2003), faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah faktor predisposisi (predisposing factor) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, keyakinan, pendidikan, sosial ekonomi, jarak tempuh, pekerjaan, sikap, keyakinan dan sebagainya. Faktor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedianya/tidaknya fasilitas dan sebagainya. Serta faktor pendorong (reforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan prilaku petugas kesehatan, motivasi klien, dorongan dari keluarga dan sebagainya.
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi keteraturan pasien dalam menjalani terapi hemodialisa adalah faktor sosial yaitu pendapatan keluarga. Semakin baik tingkat pendapatan keluarga cenderung akan teratur untuk melakukan haemodialisa, hal ini dikarenakan biaya yang harus dikeluarkan oleh klien cukup besar meliputi obat, pemeriksaan laboratorium, transportsi, hemodialisis dan transplantasi. Mereka yang tinggal didaerah yang belum ada fasilitas haemodialisis tentu akan lebih sulit dan memerlukan biaya yang lebih besar untuk mencapai lokasi. Selain itu motivasi dan dukungan keluarga juga berperan dalam ketaatan seseorang menjalani terapi haemodialisa, (Indonesian Nurse, 2008 )
Di RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu tercatat sebanyak 44 orang penderita gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa tahun 2009. Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti di ruang hemodialisa RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu dari 10 orang pasien yang melakukan hemodialisa 5 diantaranya mengatakan tidak teratur menjalani terapi hemodialisa 2 diantaranya mengatakan terlalu mahalnya biayanya dan tidak sanggup bila harus melakukanya secara rutin, 2 diantanya mengatakan jarak rumah nya terlalu jauh dari tempat terapi, dan 1 orang lagi mengatakan kurang termotivasi karena dirinya sudah tua dan takut menyusahkan anak – anak nya.

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik dan berkeinginan untuk melakukan peneliti dengan judul ” Faktor – faktor yang berhubungan dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program haemodialisa di ruang Hemodialisa RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu”.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka didapat masalah penelitian masih terdapatnya pasien gagal ginjal kronik yang tidak teratur melakukan cuci darah. Sedangkan rumusan masalah penelitian adalah Faktor - Faktor Apakah yang Berhubungan Dengan Keteraturan Pasien Gagal Ginjal Kronik Menjalani Program Haemodialisa di Ruang Haemodialisa RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui factor-faktor yang berhubungan dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani progam haemodialisa.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran keteraturan pasien gagal ginjal kronik yang menjalani program haemodialisa di ruang haemodialisa RSUD. Dr M. Yunus Bengkulu.
b. Untuk mengetahui gambaran pendapatan keluarga pasien gagal ginjal kronik yang menjalani program hemodialisa RSUD. Dr M. Yunus Bengkulu.
c. Untuk mengetahui gambaran jarak tempuh pasien gagal ginjal kronik yang menjalani program haemodialisa di ruang haemodialisa RSUD. Dr M. Yunus Bengkulu.
d. Untuk mengetahui gambaran motivasi pasien Gagal ginjal kronik untuk menjalani program haemodialisa di ruang haemodialisa RSUD. Dr M. Yunus Bengkulu.
e. Untuk mengetahui hubungan pendapatan keluarga dengan keteraturan pasien GGK menjalani program haemodialisa di ruang haemodialisa RSUD. Dr M. Yunus Bengkulu.
f. Untuk mengetahui hubungan jarak tempuh dengan keteraturan pasien GGK menjalani program haemodialisa di ruang haemodialisa RSUD. Dr M. Yunus Bengkulu.
g. Untuk mengetahui hubungan motivasi pasien GGK dengan keteraturan menjalani program haemodialisa di ruang haemodialisa RSUD. Dr M. Yunus Bengkulu





D. Manfaat Penelitian
1. Untuk RSUD Dr. M. yunus Bengkulu
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan keteraturan pasien GGK menjalani program haemodialisa di ruang haemodialisa RSUD. Dr M. Yunus Bengkulu.
2. Untuk Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang dapat bermanfaat dalam mengembangkan kurikulum keperawatan medikal bedah dan sebagai sumber pustaka yang berhubungan dengan gagal ginjal kronik dan Haemodialisa.
3. Untuk Peneliti Lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar untuk penelitian serupa yang akan dikembangkan lebih lanjut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Gagal Ginjal Kronik
1. Pengertian
Gagal ginjal kronik adalah ganguan fungsi renal yang progresif dan irevesibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan uremia, ( Brunner dan Suddarth, 2001 )
Gagal ginjal kronis adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialysis atau tranplantasi gijal), (Nursalam dan fransisca,2008).
Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang progresif dan irevesibel, dimana ketidak mampuan renal berfungsi dengan adekuat untuk keperluan tubuh (harus dibantu dengan dialisis atau transplantasi), (Masnjoer, 2001)
Gagal ginjal kronik adalah ketidak mampuan ginjal mengejakan fungsinya. Statusnya dalah total atau hampir tidak mampu membuang produk sisa metabolisme dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit (termasuk keseimbangan asam dan basa), serta tidak mampu mengendalikan tekanan darah, (Long, 1996). Gagal giinjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat (biasanya berlangsung beberapa tahun), (Wilson, 2005).
2. Etiologi
Menurut Brunner dan Suddarth, 2001. Gagal ginjal kronik dapat disebabkan oleh beberapa factor antara lain:
a) Infeksi (peradangan)
Gagal ginjal kronoik yang disebabkan oleh infeksi seperti :
1) Plienofitis
Merupakan infeksi saluran kemih yang bagian atas, infeksi ini menyebabkan refluk (gerakan balik) dari urine yang terinfeksi kedalam ureter dan masuk ke ginjal (refluk internal) yang akan mengakibatkan cidera ginjal yang progresif.
2) Glomerulonefitis
Merupakan penyakit peradangan glomerulus bilateral sehingga tidak dapat melakukan proses filtrasi sempurna akibatnya akan dimanifestasikan dengan hematuri/proteinuria, lesi pertama biasanya pada glomerulus dan ahirnya menyebar pada seluruh pada nefron.
b) Nefrosklerosis Maligna (Hipertensi)
Hipertensi yang berlangsung lama dapat menyebabkan perubahan-perubahan pada stuktur arteriole yang berupa fibriosis dan sklerosis dinding vasculer akibatnya terjadi penyempitan lumen pembuluh darah intra renal dan ginjal kekurangan darah lama-lama ginjal atropi dari keadaan ini nefron tidak dapat berfungsi dengan baik.
c) Gangguan Jaringan Penyambung
Penyakit Jaringan Penyambungambung yang dapat menyebabkan gagal ginjal kronik seperti SLE yang mengakibatkan terperangakapnya reaksi antigen dan anti body disirkulisasi pada ginjal poliatritis nodosa yang mengakibatkan radang dari nekrosis pada arteri renalis dan skleroderma yang mengakibatkan sklerosis pada ginjal. Ketiga ppenyakit ini akan membuat nefron tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
d) Penyakit Metabolik
Penyakit-panyakit metabolic yang menyebabkan gagal ginjal kronik antaralain DM, gout, hiperparatiroid, dan amilohidosis. Kelebihan zat-zat pada penyakit tersebut akan menyebabkan endapan pada ginjal yang bias menimbulkan kerusakan-kerusakan pada ginjal.
e) Gangguan Kongiunetal dan Heriditer (penyakit ginjal poli gistik)
Suatu keadaan ginjal bawaan dimana terdapat rongga kista yang akan menekan ginjal sehingga lama-lama akan terjadi penghancuran parenkim ginjal dan akan terjadi pembesaran ginjal karena kista seperti buah anggur terisi cairan darah.
f) Nefropati Obstruktif.
Obtruksi saluran kemih bagian atas karena kalkuli, neoplasma, dan obstruksi saluran kemih bagian bawah karena hipertropi prostat dapat mengakibatkan refluk keginjal ( hidronefprosis) selain itu urine refluk ke ginjal juga mengandung kuman, kedua hal ini akan membuat kerusakan pada ginjal.
g) Obat-Obatan
Penyalah gunaan analgesic nefropati timbal bisa menjadi toksik. Obat-obatan bisa masuk ke ginjal melalui aliran darah, insufiensi ginjal yang mengakibatkan konsentrasi cairan dalam tubulus akibatnya tubuh akan lelah/lemah jika ini terjadi dalam waktu yang cukup lama.


















3. Patofisiologi
Ganguan Hipertensi Infeksi perradangan Gangguan Penyykit Obstruksi Obat dan
Metabolic (pielonefitis dan kongerital jaringan traktus racun
Glomerunefritis) Heredital penyambung urinarius


Terjadi kerusakan
Nefron 70-80%
Menurunnya fungsi ginjal
Penurunan GFR

GFR turun 50%-75 Penurunan GFR 20-35% Penurunan GFR 5%-25%

Tidak ada Sisa Kerusakan Nefron Nefron Banya Rusak
Metabolik (Nefron (beratnya beban)
Sehat mengkompensasi Jaringan Parut
Nefron rusak ) Akumulasi Sisa Metabolik
Atrofi Ginjal
Penurunan Komponen Penurunan Respon Diuretik
Konsentrasi urine
Oliguria Gagal Ginjal akut
Nocturia dan poliuria
Oedema
Penurunan fungsi ganjal
Insufiensi Ginjal
Bagan II.I. Patofisiologi Gagal Ginjal Kronik (Brunner dan Suddrat, 2001)
4. Stadium gagal ginjal kronik
Perjalanan umum gagal ginjal kronik menurut Suharyanto dan Madjid, (2009) dapat dibagi menjadi 3 (tiga) stadium, yaitu:
a) Stadium I, dinamakan penurunan cadangan ginjal.
Selama setadium ini kreatinin serum dan kadar BUN normal, dan penderita asimtomatik. Ganguan fungsi ginjal hanya dapat diketahui dengan tes pemekatan kemih dan tes GFR yang diteliti.
b) Stadum II, dinamakan insufiensi ginjal.
1) Pada setadium ini, dimana lebih 75% jaringan yang berfungsi telah rusak.
2) GFR besarnya 25% dari normal
3) Kadar BUN dan kreatinin serum mulai meningkat dari normal.
4) Gejala-gejala nokturia atau sering berkemih dimalam hari sampai 700 ml dan poliuria (akibat dari kegagalan pemekatan) mulai timbul.
c) Stadium III, dinamakan stadium ahir atau uremia.
1) Sekitar 90% dari masa nefron telah hancur atau rusak, atau sekitar 200.000 nefron saja yang masih utuh.
2) Nilai GFR hanya 10% dari keadaan normal.
3) Kreatinin serum dann BUN akan meningkat dengan mencolok.
4) Gejala-gejala yang timbul karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeotastis cairan elektrolit dalam tubuh, yaitu oliguri karena kegagalan glomerulus, sindrom uremik.

5. Manifestasi Klinis.
Gagal ginjal karonik merupakan sebutan bagi kondisi gagal ginjal yang ditandai dengan keadaan klinis yang menunjukkan penurunan progresif fungsi ginjal secara perlahan tetapi pasti yang dapat mencapai 60% dari kondisi normal, menuju ketidak mampuan ginjal. Gejala utama dari gagal ginjal kronik berupa, keluhan rasa sakit didaerah pinggang yang dapat disertai dengan rasa mual, muntah, gatal-gatal pada kulit, lemas, lesu, cepat lelah, nafsu makan menurun, frekuwensi dalam buang air kecil dan jumlah urine berubah, libido menurun beserta menstrulasi yang tidak teratur. (Lubis. A, 2006)
Manifestasi klinis gagal ginjal kronik menurut Wilson, (2005) antara lain sebagai berikut:
a. Biokimia
Asidosis, Metabolik (HCO3 serum 18-20 mEq/L), Azotemia (penuruna GFR, meyebabkan peningkatan BUN dan kreatinin) Hiperkalemia, Retensi atau pembuangan Na Hipermagnesia, Hiperurisemia.
b. Saluran Cerna
Anoreksia, mual muntah, menyebabkan penurunan berat badan, Nafas bau amoniak, Rasa kecap logam, mulut kering, Stomatitis, Parotitis, Gastritis, Entritis, Pendarahan saluran cerna, Diare.


c. Genitourinaria
Poliuria, berlanjut menuju oliguri, lalu anuria, Nokturia, pembalikan irama diurnal, Berat Jenis kemih tetap sebesar 1,010, Proteinuria, Silinder, Hilangnya Libido, Amenore, Impotensi dan Sterilitas.
d. Metabolisme
Protein–intoleransi, Sintensis abnormal karbohidrat Hiperglikemia, kebutuhan insulin menurun, Lemak - peningkatan kadar trigliserida, Mudah lelah.
e. Neuromuskuler
Mudah lelah, Otot mengecil dan lemah, SSP : penurunan ketajamann mental, konsentrasi buruk, apatis, letargi/gelisah, insomnia kekacauan mental, Koma, Otot berkedut, Asteriksis, Kejang. Neuropati Perifer : konduksi saraf lambat, perubahan sensorik pada ekstremitas – parestesi, perubahan motorik – food drop yang berlanjut menjadi menjadi paraplegia.
f. Kardiovaskuler
Hipertensi, Retinparti dan Ensefalopati hipentensif, Beban sirkulasi berlebihan, Edema, Gagal jantung kongestif, Perikarditis dan Disritmia.
g. Ganguan Kalsium dan Rangka
Hiperposfatemia, Hipokalsemia, Hiperparatiroidtisme sekunder. Osteodistrofi, Fraktur patologik (demineralisasi tulang), Deposit garam kalsium pada jaringan lunak (sekitar sendi, pembuluh darah, jantung dan paru). Konjungtifitis (uremia mata merah).
h. Pernapasan
Pernapasan Kussmaul, Dispnea, Edema paru, Pneumonitis.
i. Kulit
Pucat, Pigmentasi, Perubahan Kulit dan Kuku (kuku mudah patah, tipis, bergerigi, ada garis-garis merah-biruyang berkaitan dengan kehilangan protein), Pruritus, Kristal uremik, Kulit kering, dan Memar.
j. Hematologi
Anemia menyebabkan kelelahan, Hemolisis, Kecendrungan pendarahan, Menurunya resistennsi terhadap infeksi (infeksi saluran kemih, pneumonia, septicemia).
6. Komplikasi
Menurut Smeltzer (2000), komplikasi potensial gagal ginjal kronik yang memerlukan pendekatan kolaboratif dalam perawatan, mencakup :
a. Hiperkalemia
Akibat penurunan ekskresi, asidosis metabolik, katabolisme dan masukan diet berlebih.
b. Perikarditis
Efusi perikardial , dan tamponade jantung akibat retensi produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.


c. Hipertensi
Akibat retensi cairan dan natrium serta mal fungsi sistem renin, angiotensin, aldosteron.
d. Anemia
Akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah merah, perdarahan gastro intestinal.
e. Penyakit tulang serta kalsifikasi metastatik akibat retensi fosfat.
f. Asidosis
Keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah.
g. Hiperurisemia
Terjadi akibat meningkatnya produksi ataupun menurunnya pembuangan asam urat, atau kombinasi dari keduanya.
7. Penatalasanaan Gagal Ginjal Kronik..
a. Pemeriksaan Penunjang.
Menurut Doenges (2000) pemeriksaan penunjang pada pasien GGK adalah :
1) Laboratorium.
a) Volume urine, Biasanya kurang dari 400 ml/ 24 jam (fase oliguria) terjadi dalam (24 jam – 48) jam setelah ginjal rusak.
b) Warna Urine, Kotor, sedimen kecoklatan menunjukan adanya darah.
c) Berat jenis urine Kurang dari l,020 menunjukan penyakit ginjal contohnya glomerulonefritis, pielonefritis dengan kehilangan kemampuan memekatkan menetap pada l, 0l0 menunjukkan kerusakan ginjal berat.
d) pH Lebih besar dari 7 ditemukan pada ISK, nekrosis tubular ginjal dan rasio urine/ serum saring (1 : 1).
e) Kliren kreatinin Peningkatan kreatinin serum menunjukan kerusakan ginjal.
f) Natrium Biasanya menurun tetapi dapat lebih dari 40 mEq/ ltr bila ginjal tidak mampu mengabsorpsi natrium.
g) Bikarbonat Meningkat bila ada asidosis metabolik.
h) Protein Proteinuria derajat tinggi (+3 – +4 ) sangat menunjukkan kerusakan glomerulus bila Sel darah merah dan warna Sel darah merah tambahan juga ada. Protein derajat rendah (+1 – +2) dan dapat menunjukan infeksi atau nefritis intertisial.
i) Warna tambahan Biasanya tanda penyakit ginjal atau infeksi tambahan warna merah diduga nefritis glomerulus.
j) Hemoglobin, Menurun pada anemia.
k) Sel darah merah, Sering menurun mengikuti peningkatan kerapuhan / penurunan hidup.
l) Kreatinin, Biasanya meningkat pada proporsi rasio (l0:1).
m) Osmolalitas, Lebih besar dari 28,5 m Osm/ kg, sering sama dengan urine
n) Kalium, Meningkat sehubungan dengan retensi urine dengan perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis sel darah merah).
o) Natrium, Biasanya meningkat, tetapi dapat bervariasi.
p) pH, Kalium & bikarbonat, Menurun.
q) Klorida fosfat & Magnesium, Meningkat.
r) Protein, Penurunan pada kadar serum dapat menunjukan kehilangan protein melalui urine, perpindahan cairan penurunan pemasukan dan penurunan sintesis karena kekurangan asam amino esensial.
2) Radiologi
1) Pemeriksaan EKG, Untuk melihat adanya hipertropi ventrikel kiri, tanda perikarditis, aritmia,dan gangguan elektrolit (hiperkalemi, hipokalsemia)
b) Pemeriksaan USG, Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, ureter proksimal dan kandung kemih.
c) Pemeriksaan Radiologi, Renogram, Intravenous Pyelography, Retrograde Pyelography, Renal Aretriografi dan Venografi, CT Scan, MRI, Renal Biopsi, pemeriksaan rontgen dada, pemeriksaan rontgen tulang, foto polos abdomen
b. Tindakan Konservatif
1) Perawatan diet protein, kalium, natrium, dan cairan.
Tindakan ini dilakukan penderita yang mengalami azotemia yang bertujuan untuk merendahkan atau menghambat gangguan ginjal.
a) Pengontrolan Keseimbangan cairan Masuk dengan keluar dalam 24 jam (Balance Intake Output)
b) Pembatasan jumlah protein (Diit rendah protein).
c) Pembatasan pemberian natrium / garam, bertujuan untuk menurunkan tekanan darah, oedema atau bendungan paru.
d) Pembatasan pemberian kalium
Untuk mencegah / mengurangi aritmia / henti jantung dengan cara mengurangi konsumsi buah-buahan dan sayuran yang mengandung tinggi kalium.
e) Pemberian Tranfusi, pencegahan pendarahan dan pemberian vitamin untuk mengurangi anemia.
f) Mengurangi asupan asam urat dalam tubuh.
Dengan cara diit rendah asam urat, misalnya menghindari konsumsi jeron dan lain-lain atau dengan pemberian kolkisin pada gout.
g) Diit Tinggi kalsium.
Dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium, misalnya susu tinggi kalsium, Selain itu usaha diit untuk menurunkan kadar fosfat juga meningkatkan kadar kalsium.
h) Pengobatan Segera Terhadap infeksi
Untuk mencegah infeksi sampai / masuk ke ginjal karena penderita gagal ginjal kronik terjadi penurunan imunitas
c. Terapi yang diberikan pada klien gagal ginjal kronis.
Terapi yang diberikan pada klien gagal ginjal kronis menurut Djibril, (2008). Atara lain adalah:
1) Klien diberikan tensivask 1x1 yang berfungsi untuk menurunkan hipertensi klien
2) Klien kekurangan kalsium, pemeriksaan Lab menunjukan kalsium klien hanya 6,8 mmol/dl. Normalnya adalah 8.1-10.4 mmol/dl. Oleh karena itu klien diberikan terapi CaCO3 (Calsium Carbonat) 3x1 yang berfungsi untuk meningkatkan kalsium dalam tubuh.
3) Klien diberikan Infus D5 lini mikro, artinya klien diberikan cairan infus asal netes menggunakan mikro drip. Pada klien gagal ginjal kronis pemasukan cairan harus dibatasi, karena ginjalnya telah rusak maka kehilangan keseimbangan untuk mengatur cairan dan elektrolit dalam tubuh. Oleh karena itu cairan yang masuk asal netes, karena untuk meminimalkan kerja ginjal yang rusak.
4) Klien mengalami konjungtiva anemis, karena ginjal telah rusak maka produksi eritripoetinya berkurang dan sel darah merah juga kurang. Oleh karena itu klien diberikan terapi asam folat untuk pematangan sel darah merah.
5) Klien mengalami sesak. untuk mengurangi rasa sesak, maka klien diberikan terapi oksigen 2-3 L.
6) Rencana diberikan tranfusi PRC 2 lbu jika hiperkaleminya tertangani. Jika klien diberikan tranfusi saat kaliumnya tinggi, maka tranfusinya tidak akan efektif. Darah yang masuk kemungkinan besar akan rusak, karena kalium dapat melisiskan darah.
7) Klien diberiakan RI(Regional Insulin) 10 IU (internasional Unit) dalam Dex 40% 2 Fl. (Flakon) Bolus. Glukosa, Insulin atau klsium glukonat dapat digunakan sebagai tindakan darurat sementara untuk menangani hiperkalemia. Glukosa dan insulin mendorong kalium kedalam sel sehingga kadar serum kalium menurun sementara sampai kalium diambil melalui proses dialisa.
d. Pencegahan dan Pengobatan Komplikasi
Pencegahan dan pengobatan komplikasi menurut Suharyanto dan Madjid, 2009 antara lain sebagai berikut
1) Pencegahan Komplikasi
Pengaturan diet protein, kalium, natrium dan cairan
a) pembatasan protein.
Pembatasan protein tidak hanya mengurangi kadar BUN, tetapi juga mengurangi asupan kalium pada fosfat, serta mengurangi produksi ion hydrogen yang berasal dari protein.pembatasan asupan protein telah terbukti menormalkan kembali kelainan ini dan memperlambat terjadinya gagal ginjal. Jumlah kebutuhan protein biasanya dilonggarkan sampai 60-80 g/hari, apabilla penderita mendapatkan pengobatan dialisis teratur.
b) Diet rendah kalium
Hiperkalemia biasanya merupakan masalah pada gagal ginjal lanjut.Asupan kalium dikurangi.Diet yang di anjurkan adalah 40-80 mEq/hari.pengunaan makanan dan obat-obatan yang tinggi kadar kaliumnya dapat menyebabkan hiperkalemia.


c) Diet rendah natrium.
Diet Na yang di anjurkan adalah 40-90mEq/hari(1-2gNa).Asupan natrium yang terlalu longgar dapat menyebabkan retensi cairan, oedema, perifer, oedema paru, hipertensi dan gagal ginjal kongestif.
d) Pengaturan cairan
Cairan yang diminum penderita gagal ginjal tahap lanjut harus diawasi dengan seksama.parameter yang tepat untuk diikuti selain data asupan dan pengeluaran cairanyang di catat dengan tepat adalah pengukuran Berat harian.Asupan yang bebas dapat menyebabkan beban sirkulasi menjadi berlebihan,dan, edema.sedangkan asupan yang terlalu rendah mengakibatkan dehidrasi,hipotensi dan gangguan fungsi ginjal.
Aturan yang dipakai untuk menentukan banyaknya asupan cairan adalah

Misalnya jika jumlah urin yang dikeluarkan dalam waktu 24 jam adalah 400ml,maka asupan cairan total dalam sehari adalah 400+500 ml =900 ml.
2) Pengobatan komplikasi gagal gijal kronik
a) Hipertensi
1) Hipertensi dapat dikontrol dengan pembatasan natrium dan cairan.
2) Pemberian obat antihipertensi, metildopa (aldomet) propranolol, klonidin (catapres.)
Apabila penderita sedang mengalami terapi hemodialisa, pemberian anti hipertensi dihentikan karena dapat mengakibatkan hipotensi dan syok yang diakibatkan oleh keluarnya cairan intravaskuler melalui ultrafiltrasi.
3) Pemberian diuratik, furasemid (lasik)
b) Hiperkalemia,
Hiperkalemia merupakan komplikasi yang sangat serius, karena bila K+ serum mencapai sekitar 7 an mEq/L, dapat mengakibatkan aritmia dan juga henti jantung .
Hiperkalemia dapat diobati dengan pemberian glukosa dan insulin intravena,yang akan memasukan K+ kedalam sel ,atau dengan pemberian Kalsium Glukonat 10%.
c) Anemia
Anemia pada gagal ginjal kronik diakibatkan penurunan sekresi erittroporitin oleh ginjal.pengobatanya adalah pemberian hormone eritropoitin.yaitu rekombinan eritropoitin (r-EPO), selain dengan pemberian vitamin dan asam Folat,besi dan tranfusi darah.
d) Asidosis
Asdosis ginjal biasanya tidak diobati kecuali HCO3 plasm turun di bawah angka 15 mEq/L.Bila asidosis berat akan dikoreksi deng an pemberian NaHCO3 (natrium bikarbonat parentral) koreksi PH darah yang berlebihan dapat menimbulkan tetani, maka harus dimonitor dengan seksama.
e) Pengobatan Hiperurisemia
Obat pilihan untuk mengobati hiperuresemia pada penyakit ginjal adalah dengan pemberian alupurinol. obat ini mengurangi kadar asam urat dengan menghambat biosintesis sebagian asam urat total yang dihasilkan tubuh.
e. Dialisis.
1) Hemodialisis
Hemodialisis adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah buangan. Hemodialisis digunakan bagi pasien dengan tahap ahir gagal ginjal atau pasien yang berpenyakit akut yang membutuhkan haemodialisis, (Nursalam dan fansisca. 2008)
Hemodialisa merupakan suatu tindakan terapi dengan dialisa sebagai pengganti fungsi ginjal untuk menurunkan kadar racun dalam di dalam darah. Pada proses ini zat-zat racun (toksik), air dan elektrolit yang tidak bisa dikeluarkan lagi oleh ginjal yang sakit, di bersihkan dari darah melalui proses haemodialisis, (Setiawan, 2008).
2) Manfaat Hemodialisa
a) Meningkatkan kualitas hidup bagi penderita gagal ginjal terminal.
b) Meningkatkan status fungsional penderita gagal ginjal terminal agar tetap dalam kondisi baik prima
3) Komplikasi Diadilisis
Menurut Suharyanto dan Madjid, (2008). Meskipun hemodialisis dapat memperpanjang usia tanpa batas yang jelas, tindakan ini tidak akan mengubah perjalanan alami peykit ginjalyang mendasari dan mengendalikan seluruh fungsi ginjal. Pasien akan teetap mengalami sejumlah permasalahan dan komplikasi. Salah satu penyebab kematian diantara pasien-pasien yang menjalani dialisis kronis adalah penyakit kardiovascular arteriosklerotik. Gangguan metabolisme lipid (hipertrigliseridemi) tampaknya semakin diperberat dengan tindakan haemodialisis.
Gagal jantung kongesif, penyakit jantung koroner serta nyeri angina pectoris., stroke dan insufiensi vaskuler perifer juga dapat terjadi serta membuat pasien tidak berdaya. Komplikasi dialsis dapat mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Hipotensi, dapat terjadi selama terapi dialiisis ketika cairan dikeluarkan.
b. Emboli udara, merupakan komplikasi yang jarang terjadi tetapi dapat terjadi jika udara memasuki system vaskuler.
c. Nyeri dada, dapat terjadi karena PCO2 menurun bersamaan dengan sikulasi darah diluar tubuh.
d. Pruritus, dapat terjadi selama dialisis ketika produk ahir metabolisme meninggalkan kulit.
e. Gangguan keseimbangan dialisis, terjadi karena perpindahan cairan selebral dan muncul berbagai serangan kejang. Komplikasi ini kemungkinan terjadi lebih besar jika terdapat gejala uremia yang berat.
f. Kram otot, terjadi ketika cairan dan elektrolit dengan cepat meninggalkan ruang ekstra sel.
g. Mual muntah, merupakan peristiwa yang sering terjadi.
f. Dialisis peritonial
Dialisis peritoneal adalah suatu tindakan untuk membuang metabolisme dalam dalam darah yang berlebihan akibat gangguan ginjal kronik (GGK) melalui dinding abdomen sebagai membran semi parmiabel secara difusi dan ultrafiltrasi osmosis. Cairan dialysis yang tinggi glukosa masuk kedalam rongga peritoneal dengan diding abdomen sebagai membrane semi permiabel akan terjadi perpindahan solute-solut yang berlebihan dalam darah kecairan dialisit tinggi glukosa maka cairn yang berlebihan dalam rongga peritoneal tertrik glukosa secara osmosis, akibat perbedaan tekanan cairan juga akan pindah secara ultrafiltrasi, maka kelebahhan solute dan cairan dalam tubuh akan di keluarkan bersama cairan dialist dari tubuh dengan bantuan gaya gravitasi, (Long, 1996)
g. Tranplantasi ginjal
Tranplantasi ginjal adalah suatu tindakan yang dilakukan pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) dengan menanamkan ginjal sehat dari orang lain pada fosa illiaka anterior Krista illiaka untuk menggantikan ginjal yang rusak. Trnplantasi ginjal bertujuan agar pasien gangguan ginjal kronik (GGK) tidak tergantung lagi dengan obat atau tidakan dialysis, (Doenges, 2000)




B. Konsep Prilaku dan Keteraturan berobat
1) Pengertian Perilaku
Perilaku dalam pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas pada manusia itu sendiri, (Notoatmodjo,2003)
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar, (Notoatmodjo,2003).
Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon, (Skinner,2003)
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) :
a) Perilaku tertutup (convert behavior)
Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
b) Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.
2) Prilaku Kesahatan
Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003), adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :
a) Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance).
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.
b) Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior).
Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan.
c) Perilaku kesehatan lingkungan
Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya.
3) Keteraturan Berobat
Keteraturan adalah suatu perilaku dari seseorang yang secara tetap dan periodic untuk melakukan aktivitasnya,perilaku itu sendiri di pandang dari segi biologis adalah suatu kegiatan organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakekatnya adalah aktivitas dari manusia itu sendiri.Baik yang dapat dicermati secara langsung maupun seseorang pada dasarnya adalah respon seseorang / organisme terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakitnya.Sistem pelayanan kesehatan dan pengobatan, (Notoadmojo, 1997).
Kepatuhan adalah suatu prilaku manusia yang taat terhadap aturan, perintah, prosedur dan disiplin (Ali, 1993). Nurbaiti (2004), mengemukakan kepatuhan dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, seperti usia, pendidikan, pengetahuan dan masa kerja. Sementara menurut Notoatmodjo (2003), faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah pendidikan, usia, dan motivasi.
Banyak faktor yang mempengaruhi keteraturan pasien Gagal Ginjal Kronik dalam menjalani perawatan hemodialisa. Faktor-faktor tersebut antara lain tingkat pengetahuan penderita, tingkat ekonomi, sikap pasien, usia, dukungan keluarga, jarak dengan pusat hemodialisa, nilai dan keyakinan tentang kesehatan, derajat penyakit, lama menjalani hemodialisa, motivasi dan faktor keterlibatan tenaga kesehatan. Kepatuhan pasien dalam menjalani hemodialisa dapat memperpanjang umur dan mendapatkan kesehatan yang lebih baik, (Fitriani, 2010)
Kepatuhan terapi pada penderita hemodialisa merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, karena jika pasien tidak patuh akan terjadi penumpukan zat-zat berbahaya dari tubuh hasil metabolisme dalam darah. Sehingga penderita merasa sakit pada seluruh tubuh dan jika hal tersebut dibiarkan dapat menyebabkan kematian. Pada dasarnya penderita gagal ginjal baik akut maupun kronik sangat tergantung pada terapi hemodialisa yang fungsinya menggantikan sebagian fungsi ginjal, (Sunarni, 2009).
Hemodialisa harus dilakukan secara teratur tanpa boleh dilewatkan satu haripun. Biasanya hemodialisa dilakukan 2 – 3 kali dalam satu minggu yang membutuhkann waktu 3 – 6 jam setiap kali melakukan hemodialisa. Hemodialisa tidak bisa dihentikan kecuali jika menjalani pencangkokan ginjal, kegiatan hemodialisa akan berlangsung terus menerus selama hidupnya (Lubis, 2006). Apabila hemodialisa tidak dilakukan atau dilewatkan hanya 1 kali maka pasien akan mengalami penurunan kesehatan dan akan jatuh kembali ke GGK yang hebat sehingga dapat mengakibatkan kematian, (Rubin, 2005).

C. Pendapatan Keluarga
Pendapatan menurut ilmu ekonomi merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain, pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode, bukan hanya yang dikonsumsi, (Rustam, 2002). Pendapatan Keluarga adalah jumlah rata-rata pendapatan per bulan dalam enam bulan terakhir yang diperoleh dari pekerjaan suami atau istri (dalam rupiah), (Budiadi dan Murti, 2006).
Pendapatan (income) adalah kegiatan yang bertujuan memasukkan uang/harta. Biasanya pendapatan dapat diperoleh dari dua aktivitas, yaitu Gaji dan Investasi. Gaji diperoleh dari status kita sebagai pegawai ,karyawan, professional/konsultan. Dalam sebuah keluarga gaji ini bisa diperoleh oleh suami dan istri yang bekerja. Hasil Investasi diperoleh dari aktivitas kita dalam mengembangkan uang/harta dalam berbagai cara, (Ziddu, 2009).
Tingkat ekonomi atau penghasilan yang rendah akan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat atau membayar transportasi, (Notoadmodjo,1997).
Tingkat ekonomi dapat mempengaruhi pemilihan metode terapi yang akan digunakan oleh klien gagal ginjal kronis. Biaya yang harus dikeluarkan oleh klien cukup besar meliputi obat,pemeriksaan laborat,transportsi,hemodialisis dan transplantasi.Aspek penting lain dari biaya adalah adanya komplikasi atau efek samping yang timbul akibat tindakan hemodialisis dan transplantasi, (Indonesian Nursre, 2008). Pendapatan Keluarga diukur dengan banyaknya akumulasi pendapatan semua anggota keluarga, setelah dikonpersi menjadi per bulan, jadi satuannya adalah rupiah per bulan (Rp/bulan). Sebagai patokan atau standar dalam menentukan rendah atau tidak pendapatan keluarga adalah dengan membandingkan dengan upah minimum provinsi (UMP) Bengkulu Menurut standar BPS tahun 2009 , upah minimum yang diterima Rp. 1.400.552.

D. Jarak Tempuh
Jarak adalah angka yang menunjukkan seberapa jauh suatu benda berubah posisi melalui suatu lintasan tertentu. Dalam fisika atau dalam pengertian sehari-hari, jarak dapat berupa estimasi jarak fisik dari dua buah posisi berdasarkan kriteria tertentu (misalnya jarak tempuh antara Jakarta-Bandung). (Wikipedia, 2008)
Jarak tempuh menurut Soedinar (1997). adalah jauh dekatnya antara suatu tempat ke tempat lain. Jarak yang jauh akan menghambat orang untuk mengkunjungi suatu tempat pengobatan dan jarak yang dekat akan mempengaruhi seseorang untuk datang ketempat pengobatan. Jarak adalah jarak antara rumah tempat tinggal dan tempat layanan kesehatan (dalam Km). Menurut Supriani, (dalam Oktasari, 2007). Jarak Rumah dekat ( < 5 km ) dari tempat pengobatan akan lebih teratur / patuh dibandingkan dengan jarak ( > 5 km ) dari tempat pengobatan.
Jarak pusat haemodialisa dengan tempat tinggal pasien juga kemudahan terjangkau oleh transportasi umum juga berpengaruh terhadap kepatuhan seseorang dalam menjalani terapi haemodialisis. Mereka yang tinggal didaerah yang belum ada fasilitas haemodialisis tentu akan lebih sulit dan memerlukan biaya yang lebih besar untuk mencapai lokasi, (Indonesian Nurse, 2008)


E. Motivasi
Motivasi adalah dorongan, sebab atau alasan seseorang melakukan sesuatu. Dengan demikian motivasi berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadikan sebab seseorang melakukan suatu perbuatan/ kegiatan, yang berlangsung secara sadar. (Nawawi, 2001)
Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motivasi tidak dapat diamati, yang dapat diamati adalah kegiatan atau mungkin alasan-alasan tindakan tersebut. (Notoatmojo, 2007)
Pembagian motivasi dapat dibagi berdasarkan pandangan dari para ahli, antara lain sebagai berikut.
1. Woodworth dan Marquis dalam notoatmojo (2007), membedakan motivasi yang berdasarkan kebutuhan manusia menjadi 3 macam:
a. Motivasi kebutuhan organis, seperti minum, makan, bernafas, seksual, bekerja, dan beristirahat.
b. Motivasi darurat, yang mencakup dorongan-dorongan menyelamatkan diri berusaha, dan dorongan untuk membalas.
c. Motivasi objektif, yang meliputi kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, dan sebagainya.
2. Pembagian motivasi berdasarkan atas terbentuknya motivasi tersebut mencakup.
a. Motivasi-motivasi pembawaan, yang dibawa sejak lahir, tanpa dipelajari, misalnya dorongan untuk makan, minum, beristirahat, dorongan seksual, dan sebagainya.
b. Motivasi yang dipelajari, yaitu motivasi-motvasi yang timbul karena dipelajari, seperti dorongan untuk belajar sesuatu, dorongan untuk mengejar kedudukan, dan sebagainya.
3. Pembagian motivasi menurut penyebabnya
a. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi karena adanya rangsangan dari luar, misalnya mahasiswa yang belajar karena ia tahu bahwa besok ia akan ujian.
b. Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi tanpa rangsangan dari luar tetapi sudah dengan sendirinya terdorong untuk berbuat sesuatu.
Tanpa ada motivasi yang kuat dari diri pasien untuk melakukan terapi/pengobatan akan berpengaruh terhadap keteraturan pasien dalam menjalani program pengobatan terutama pada pasien yang mengalami penyakit akut, (Indonesian Nurse, 2008).
Motivasi sangat diperlukan pasien penderita gagal ginjal untuk mendorong perilaku mereka agar rutin dalam menjalani terapi hemodialisis dengan tujuan memperpanjang usia. Tanpa adanya motivasi, mustahil terapi hemodialisis dapat berjalan sesuai jadwal. Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi motivasi pasien selama menjalani terapi hemodialisis, meliputi usia, jarak, biaya, komplikasi, dukungan keluarga, lama hemodialisis, peran petugas medis dan pendidikan pasien. (Wahyuni, 2010).



F. Kerangka Konsep
Faktor pendapatan keluarga berhubungan dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program menjalani terapi haemodilisa. Faktor jarak tempuh berhubungan dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program program terapi menjalani haemodialisa. Faktor motivasi berhubungan dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program haemodialisa
Bagan 2.1. kerangka konsep penelitian
Varibel Independen Variabel Dependen



G. Hipotesis
Ha : Ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program hemodialisa di ruang Hemodialisa RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu
Ha : Ada hubungan antara jarak tempuh dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program hemodialisa di ruang Hemodialisa RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu.
Ha : Ada hubungan antara motivasi pasien dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program hemodialisa di ruang Hemodialisa RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam peeletian ini adalah penelitian secara deskriktif analitik dengan menggunakan desain cross-sectional yang merupakan rencana penelitian dengan menggunakan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali sewaktu) antara variabel bebas dengan variabel tergantung, (Hidayat, 2002). Desain penelitian ini digunakan dikarenakan variabel yang diteliti yaitu pendapatan keluarga, jarak tempuh, dan motivasi sangat efektif bila diteliti dengan desain penelitian ini. Desain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Bagan 3.1 Desain penelitian















B. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
NO Variabel Definisi opersional Alat ukur Cara ukur Hasil ukur Skala ukur
1
a Independen
Tingkat pendapatan keluaga
Pendapatan keluarga setiap bulan
Kuisoner
Mengajukan pertanyaan
0. Ekonomi
Rendah jika pendapatan perkapita keluarga pasien <
Rp.1.400.552
1. Ekonomi
Tinggi jika pendapatan perkapita keluarga pasien >
Rp.1.400.552 (BPS, prov Bengkulu, 2009).
Ordinal

b
Jarak tempuh Jarak antara tempat tinggal dengan tempat haemodialisa Kuisoner Mengajukan
Pertanyaan 0. Dekat jika Jarak < 5 km
1. Jauh jika Jarak > 5 km Ordinal
c Motivasi Motivasi pasien melakukan
haemodialisa Kuisoner Mengajukan
Pertanyaan 0. Motivasi
rendah jika skor <
 + 1 SD
1. Motivasi
tinggi jika jika skor >
 + 1 SD Ordinal
2
Dependen
Keteraturan Melakuakan haemodialisa Keteraturan pasien melakukan haemodialisa sesuai jadwal yang ditentukan Dokter. dengan kriteria pasien sudah mejalani haemodialisa 3 bulan Rekam medic pasien Melihat rekam medic pasien 0. Tidak teatur bila tidak sesuai jadwal yang telah ditentukan baik dari frekuensi maupun dari ketepatan hari yang telah dijadwalkan. dilihat keteraturan 3 bulan terahir menjalani hd
1. Teratur
bila sesuai jadwal yang telah ditentukan baik dari frekuensi maupun dari ketepatan hari yang telah dijadwalkan. dilihat keteraturan 3 bulan terahir menjalani hd
Ordinal

C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sebagian dari keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti, (Notoatmojo, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa di ruang hemodialisa RSUD. Dr, M. Yunus Bengkulu tahun 2009 yang berjumlah 44 orang.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi, (Notoatmojo, 2002). Sampel dalam penelitian ini mengunakan total sampling dimana seluruh populasi dijadikan sampel, sehingga sampel dalam penelitian ini berjumlah 44 responden dengan kriteria sudah menjalani haemodialisa minimal 3 bulan.

D. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di ruang haemodialisa RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu.

E. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan november sampai bulan juli sedangakan pengumpulan data dilakukan pada bulan juni sampai dengan bulan juli 2010.
F. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu adanya rekomendasi dari pihak institusi dengan mengajukan permohonan izin kepada instansi tempat penelitian dalam hal ini diajukan kepada Kepala Rumah Sakit atupun Kepala Ruangan yang bersangkutan. Setelah mendapat persetujuan barulah dilakukannya penelitian dengan menekankan masalah etika penelitian meliputi :
1. Informed consent
Lembar persetujuan yang akan diberikan responden yang akan diteliti dan memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian dan manfaat penalitian. Lembar persetujuan diberikan kepada responden dengan memberi penjelasan tentang maksud dan tujuan penelitian yang akan dilakukan, serta menjelaskan manfaat yang akan diperoleh bila bersedia menjadi responden. Tujuan responden agar mengetahui dampak yang akan terjadi selama pengumpulan data. Jika subyek bersedia menjadi responden, maka harus menandatangani lembar persetujuan .
2. Anonymity (Tanpa Nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden melainkan hanya kode nomer atau kode tertentu pada lembar pengumpulan data yang diisi oleh responden sehingga identitas responden tidak diketahui publik.


3. Confidential (Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan hasil penelitian.

G. Pengumpulan, Pengolahan, dan Analisis Data
1. Cara pengumpulan data
Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dengan cara menyebarkan kuisioner pada pasien gagal ginjal kronik yang melakukan haemodialisa untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program haemodialisa di ruang haemodialisa RSUD, Dr. M. Yunus. Bengkulu, dan data sekunder untuk mendapatkan data tentang keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program haemodialisa di ruang haemodialisa RSUD. Dr. M. Yunus. Bengkulu. Dalam penelitian ini instrument yang digunakan yaitu lembar kuisioner yang digunakan untuk memperoleh data.
2. Pengolahan data.
Data yang dikumpulkan selanjutnya di olah dengan beberapa tahap yaitu:
a. Pengeditan Data (Editing).
Langakah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penenelitian dilakukan pengelompokan dan penyusunan data.

b. Pengkodean Data (Coding)
Coding adalah pengalokasian jawaban – jawaban yang ada menurut macamnya kebentuk kode-kode agar lebih mudah dan sederhana.
c. Memberikan Skore (Scoring )
Setelah dilakukan koding data, maka dilakukan pemberian skore pada masing-masing sub variabel dan dijumlahkan.
d. Memproses Data (processing)
Setelah data dikumpukan kemudian diproses dengan computer untuk dianalisis.
e. Pembersihan Data (Cleaning)
Pembersihan data dilakukan untuk mengoreksi jika ada kesalahan pengolahan data sehingga dapat diperbaiki.
3. Analisa Data.
Dalam penelitian ini digunakan analisa data univariat dan analisa bivariat.
a. Analisa Univariat.
Analisa univariat adalah seluruh variabel yang akan digunakan dalam analisa ditampilkan dalam distribusi frekuensi, Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel dependen dan independen dengan menggunakan rumus sebagai berikut:







Keterangan: P : Jumlah persentase yang dicari
F : Jumlah frekuensi untuk setiap kategori
N : Jumlah populasi
(Arikunto, 1998)

b. Analisa Bivariat.
Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen secara bersamaan dengan menggunakan analisa statistic chi - square (X2), dengan derajat kemaknaan (α) 0,05, dan tingkat signifikan 95%. Diolah dengan menggunakan system komputerisasi.
Dengan hasil hipotesis sebagai berikut :
a. Ha : diterima apabila p < 0,05.
b. Ha : ditolak apabila p > 0,05.

DAFTAR PUSTAKA

Arief. M. 2001. Kapita Selekta. Edisi 3 Jilid 1. Jakarta: EGC
Arikunto.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. Rineka Cipta.
Ali M. (1993) Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Pustaka Utama: Jakarta.
Budianto. A. 2009. Gangguan Perkemihan. Diakses dari http://www.agus.com . Pada tanggal 2 Januari 2010.
Budiadi dan Murti B, 2006. Pengaruh pendapatan keluarga terhadap pilihan kelas rawat inap di rumahSakit umum pandan arang boyolali. Diakses dari http://www.Budiadi.com. Pada tanggal 2 Januari 2010.
Brunner dan Suddart. 2001, Perawatan Medical Bedah. Volume II. Jakarta: ECG
Depkes RI. 2002. Menuju Sehat 2010, Jakarta.
Doengoes, E. M, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi I. FKUI.. Media Aesculapius.
Fitriani, (2010) Pengalaman Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Perawatan Hemodialisa di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Diakses dari http://keperawatan.undip.ac.id pada tanggal 29 Mei 2010
Guyton and Hall.1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC
Hidayat. A.A. 2002. Riset keperawatan dan teknis penulisan ilmiah. Jakarta. Salemba Medika.
Indonesia Nurse. 2008. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Haemodialisa. Diakses dari http://IndonesiaNurse . Pada Tanggal 5 September.
Lubis, A. 2006. Dukungan Sosial Pada Pasien Ggk Yang Melakukan Hemodialisa, Usu Medan.
Long B. C. 1996. Perawatan Medikal Bedah 3, Bandung: IAKP Pajajaran.
Mambo .K. 2006. Gagal Ginjal Kronik. Diakses dari http://www.kadnet info. pada tanggal 5 desember 2009.
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. 2009. Laporan Tahunan RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu. Bengkulu
Notoatmodjo. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
. 2003. Pendidikan dan prilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam dan Fransisca. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Nurbaiti. 2004. Ilmu Perilaku dan Tingkat Kepatuhan. Diakses dari http://alnurses.com
pada tanggal 21 Mei 2010.
Pearce E. 2000. Anatomi dan Fisiologi untuk para medis. Jakarta: Gramedia.
Suharyanto Toto dan Madjid Abdul. 2009. Asuhan Keperawatan Pada klien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: Trans Info Media.
Syaipudin H. 1997. Anatomi fisiologi, Edisi II, Jakarta: ECG.
Sunarni. 2009. Hubungan antara dukungan keluarga dengan Kepatuhan menjalani hemodialisa pada Penderita gagal ginjal kronik. Diakses dari http://sunarni.com pada tangal 21 Mei 2010
Supriani.1999. Dalam Oktasari. 2007. Hubungan pengetahuan, pendidikan dan jarak tempuh pasien gagal ginjal kronik dengan keteraturan melakukan hemodialisa Di RSUD. Dr, M. Yunus Bengkulu. Tidak diterbitkan
Wahyuni S. 2010. Analisis motivasi terapi hemodialisis pada Penderita gagal ginjal. Universitas Diponegoro, Semarang.
Wijaya R. 2009. Data Gagal ginjal Kronik di Indonesia. Diakses dari http://www.wijaya . Pada Tanggal 19 Desember 2009.
Wikipedia. 2008. Jarak. Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Jarak pada tangal 28 Mei 2010.